KANDUNGAN/PENJELASAN HADITS
Dengan harokat dlomah
keduanya (huruf tho dan ro) merupakan jama’ dari kata Ath-Thoriiq (jagalah
olehmu duduk di pinggir-pinggir jalan) yakni jagalah oleh kalian dari duduk
dipinggir-pinggir jalan (kami tidak bisa pisah dari tempat-tempat duduk kami) Al-Buddu
dengan harokat dlomah dan tasydidnya huruf dal bermakna pisah
artinya kami tidak bisa pisah dari tempat-tempat duduk tersebut. Dan maknanya
sesungguhnya dlorurot terkadang mendorong kita untuk melakukan
perbuatan tersebut, maka tidak ada kemampuan bagi kami dari meninggalkan hal
tersebut. (Kami membicarakan persoalan tersebut) yaitu sebagian kami
membicarakan kepada sebagian yang lain (Jika kalian tidak mau) yakni kalian mencegah
dari meninggalkan duduk di pinggir-pinggir jalan (menutup pandangan mata) yakni menjaga
pandangan ke hala-hal yang diharamkan (menjaga hal yang menyakitkan) yaitu
menjegah dari apa yang bisa menyakiti orang yang lewat. Berkata Al-Mundzir : Al-Bukhori
dan Muslim mengeluarkan hadits tersebut.
(Dalam kisah
ini) yakni kisah yang disebut dalam hadits yang telah lalu (berkata) yaitu
berkata Abu Hurairoh : hadits itu marfu’ menambah hadits yang diriwatkan
oleh Abi Sa’id (dan petunjuk jalan) dengan bacaan rofa’ yang disandarkan
atas firman Allah “ Wan Nahyi ‘anil munkari”.
(Dari Ibunu
Hujair) dengan harokat dlomah huruf ha yang tidak bertitik dan
harokat fathah huruf jim serta harokat sukun huruf ya.
(dalam kisah ini dia berkata) yaitu hadits ‘Umar marfu’ menambah atas
hadits Al-Khudriy yang haditsnya jelas atau juga atas hadits Abi Hurairoh.
Al-Qoori
mengatakannya (dan berilah pertolongan olehmu orang-orang yang teraniaya) berasal
dari kata al-ighootsah dengan huruf ghin yang bertitik satu dan
huruf tsa yang bertitik tiga, memiliki makna pertolongan.
Kata Al-Malhuuf
berarti orang yang teraniaya yang
sangat berat yang perlu diberi pertolongan dan dikumpulkan. Dihilangkan huruf nun
karena perkiraan huruf alif nun sebab disandarkan pada masdarnya. (dan
berilah petunjuk olehmu orang-orang yang tersesat) dengan harokat fathah
huruf ta yakni berilah petunjuk olehmu kepada orang-orang yang tersesat
menuju sebuah jalan. Kata irsyaadus sabiil ini lebih umum dari kata hidayatudl
dloolli.
Berkata
Al-Mundziriy bin Hujair : Al-‘Udwa merupakan bina majhul.
Dikatakan pula Ibnu Hujairoh, dengan harokat dlomah huruf ha yang
tidak bertitik dan harokat fathah huruf jim, dan keberadaan huruf
ya diakhir huruf (ha dan jim), setelah huruf ya ada huruf ro
yang tidak bertitik yang berharokat fathah serta ta tanits.
Berkata
Al-Bazaar : hadits ini tidak diketahui sanadnya kecuali Jarir bin Haazim dari
Ishaaq bin Suwaid dan tidak meriwayatkannya dari Jarir sebagai sanadnya kecuali
Ibnu Mubarok. Dan meriwayatkan pada hadits ini Humad bin Zaid dari Ishaaq bin
Suwaid sebagai hadits mursal.