Laman

Senin, 18 Januari 2016

KEPEMIMPINAN DAN PENDIDIKAN ISLAM

A.    PENDAHULUAN

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau tercapainya tujuan pendidikan Islam diantaranya adalah kinerja pemimpin. Pemimpin yang baik adalah dapat mengkombinasikan kualitas kepemimpinan dengan kekuatan stekholder dalam pendidikan menjadi potensi pengembangan mutu pendidikan. Kemampuan menciptakan pengaruh yang kuat kepada bawahannya dan koleganya. Seseorang yang mempunyai posisi sebagai pemimpin dalam suatu organisasi mengemban tugas untuk melaksanakan kepemimpinan. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan atau leadership adalah kegiatannya. Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan, visi dan misi merupakan bentuk proyeksi dari  keberhasilan kepemimpinan organisasi tersebut.
Keterkaitan kepemimpinan dan pendidikan Islam dapat ditunjukkan dengan mutu dan daya saing pendidikan Islam yang diselenggrakan oleh institusi pendidikan. Efektifitas dan efisiensi kepemimpinan dalam pengembangan pendidikan Islam secara bersinergi mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi pendidikan Islam. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membentuk konsep pendidikan Islam secara baik. Kemudian timbul pertanyaan : bagaimana kaitan kepemimpinan dengan pendidikan Islam? , mampukah seorang pemimpin memberikan warna pendidikan Islam ? sejauhmana kepemimpinan efektif terhadap pendidikan Islam.
Kepemimpinan yang mempunyai fungsi menentukan kegunaan dan fungsi ssesuatu, maka posisi pendidikan islam tidak hanya hanyut dalam dinamika perubahan tetapi dapat memberikan peranan dalam agen perubahan tersebut. Hal ini tentunya tak lepasa dai peran kepemimpinan yang mamapu menentukan arah kebijakan yang berjalan seiring dengan efektifitas pendidikan Islam itu sendiri. Kreativitas kepemimpinan yang menunjukkan kecerdasan seseorang akan optimal bila mengoptimalkan kerja akal. Efektifitas kepemimpinan dapat dilihat dari sifat-sifat kualitas kepemimpinan ketika merencanakan, mengorganisasi, menggerakan dan mengawasi jalannya kegiatan. Sebagai contoh, pemimpin yang memiliki sifat kharismatik, berpandangan kedepan, intensitas dan keyakinan diri. Hal itu akan dibahas dalam pembahasan makalah ini.
                Selanjutnya bagaimana dengan kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan merupakan faktor penting dan efektif dalam sebuah organisasi ? Apabila dalam sebuah  organisasi mampu mengidentifisikan kualitas – kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, maka kemampuan untuk menyeleksi pemimpin – pemimpin efektif akan meningkat. Hal ini akan berimbas pada organisasi dalam kegiatan berdasarkan pada perencaan yang matang dan dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga hasil yang dicapai akan mendekati apa yang telah direncanakan sebelumnya. Sehingga dalam mengidentifikasi prinsip-prinsip kepemimpinan efektif, dalam organisasi barang kali dapat dilakukan dengan mempelajari berbagai perilaku dan teknik kepemimpinan yang akan dicapai pengembangan efektif personalia dan organisasi.
                    

B.     KERANGKA TEORI
Kepemimpinan adalah bagian penting manajemen, tetapi tidak sama dengan manajemen. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Manajemen mencakup kepemimmpinan, tetapi juga mencakup fungsi – fungsi lain seperti perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan. Pada mulanya manajemen belum dapat dikatakan sebuah teori, kemudian waktu berselang dapat sebagai bidang pengetahuan karena telah memenuhi persyaratan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen merupakan suatu proses yang memiliki komponen-komponen yang memenuhi kebutuhan suatu sistem dengan aspek organisasi yaitu orang, struktur, tugas-tugas dan teknologi. Dan bagaimana mengkaitkan aspek yang satu dengan yang lain serta bagaimana mengaturnya sehingga tercapai tujuan sistem. (Rohiat, 2010 : 2)
Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Dapat diterjemahkan dalami  istilah sifat-sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola interkasi, hubungan kerja sama antarperan, kedudukan dari suatu jabatan administrative, dan persepsi dari lain-lain tentang legitimasi pengaruh. (Wahyosuidjo: 1999 : 17) . Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.

C.    PEMBAHASAN
1.      Pengertian Kepemimpinan
Ada beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli. Menurut E. Mulyasa (2005 : 17 ) kepemimpinan diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan menurut Hasibuan ( 2001 : 167 ) adalah : “ Kepemimpinan adalah cara seorang mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi “. Kepemimpinan  adalah kemampuan memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah dicanangkan (Kartini Kartono : 2011 : 153 )
Dari definisi yang berbeda-beda tersebut mengandung kesamaan asumsi yang bersifat umum, seperti ;
a.        Di dalam satu fenomena kelompok melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih;
b.      Didalam melibatkan proses mempengaruhi, dimana pengaruh yang disengaja digunakan oleh pemimpin terhadap para bawahan. (Wahyosumijo : 1999 ; 17)
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang – orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertuntu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang – orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan atau diarahkan oleh orang yang memimpinnya. Istilah kepemimpinan dan manajemen kadang-kadang digunakan secara bergantian atau dianggap sebagai sinonim. Kepemimpinan biasa dikaitkan dengan visi, dan nilai-nilai sedangkan manajemen sering digunakan dalam istilah yang berhubungan dengan proses dan struktur. Kepemimipinan telah diidentifikasi dengan aspek yang penting dalam kesuksesan suatu organisasi, sementara manajemen hanya diletakkan ditaraf yang kedua. Sehingga perlu adanya pemupukan potensi kualitas kepemimpinan.
Manajemen, kepemimpinan (leadership) telah didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula. Menurut Stoner, kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut :
Pertama, kepemimpinan menyangkut orang lain – bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin, para anggota kelompok membantu menentukan status/kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa bawahan, semua kualitas kepemimpinan seorang manajer akan menjadi tidak relevan.
Kedua, kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara para pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan berbagai kegiatan para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung, meskipun dapat juga melalui sejumlah cara tidak langsung.
Ketiga, selain dapat memberikan pengarahan kepada para bawahan  atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh. Dengan kata lain, para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sebagai contoh, seorang manajer dapat mengarahkan seorang bawahan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, tetapi dia dapat juga mempengaruhi bawahan dalam menentukan cara bagaimana tugas itu dilaksanakan dengan tepat.
Menurut Buchari Zainun, leadership atau kepemimpinan dapat diartikan ebagai suatu kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kemampuan untuk mencapai cita-cita dengan keberanian mengambil resiko yang bakal terjadi. (Sunandiah, 1993 : 14). Dengan demikian seorang pemimpin memiliki kekuataan untuk menggerakkan, bahkan sampai tingkat mengontrol kegiatan dalam mencapai sesuatu. Sifat yang dimiliki oleh masing-masing orang dalam sebuah kepemimpinan memiliki karakteristik serta teknik yang berbeda menurut situasi dan kondisi. Perbedaaan yang muncul dalam kepemimpinan akan berpengaruh dalam kontek pengambilan keputusan dan kebijkan yang menyangkut organisasi dalam arti yang luas. Lebih luas lagi kepemimpan partisipatif (participative leadership) bukan semata-mata dalam proses pengangkatannya saja secara demokratis melainkan cara kepemimpinan yang melibatkan semua anggota baik peran aktif maupun keputusan yang diambil diimplikasikan untuk kepentingan bersama sehingga semua anggota keorganisasian tunduk dan patuh dengan penuh kesadaran.
Maka dapatlah disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah kemampuan potensial diri dalam usaha merencanakan mengaktualisasikan dengan keberanian mengambil resiko untuk mencapai cita-cita dan harapan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

2.     Prinsip – Prinsip Kepemimpinan
Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi.
Prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama system pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti ; keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana dan kekuatan.
Pemimpin adalah inti dari manajemen dengan arti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan – alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana – rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama - sama. Dalam dunia pendidikan, pemimpin utamanya adalah kepala sekolah, yang memiliki peran strategis sebagai top leader, sehingga harus memiliki prinsip didalam mengelola stakeholder yang ada, dengan mengembangkan manajemen berbasis sekolah dengan pola kepemimpinan transformasional.
“ Terdapat 4 faktor untuk menuju  kepemimpinan yang transformasional, yaitu :
1.      Kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan panutan bagi guru dan karyawanya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan sekolah.
2.      Kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.
3.      Kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi dikalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah yang lebih baik.
4.      Kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya “. ( Drs. Daryanto, 2011 : 146 )
Indonesia memiliki pemimpin yang baik, antara lain Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah tokoh dan pelopor pendidikan yang mendirikan sekolah Taman Siswa pada tahun 1922.  Tiga Prinsip Dasar Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara adalah:
1.      Ing ngarsa sung tulada. Artinya, di depan memberi teladan. Pemimpin harus menjadi contoh bagi anak buahnya.
2.      Ing madya mangun karsa. Artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Pemimpin harus berjuang bersama anak buah.
3.      Tut wuri handayani. Artinya, dari belakang memberikan dorongan. Ada saatnya pemimpin membiarkan anak buah melakukan sendiri.
Ketiga prinsip tersebut, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, perlu dilakukan sesuai dengan tingkat kepentingan
Dalam pandangan Islam, memberikan prinsip-prinsip dasar dan tata nilai dalam mengelola suatu organisasi atau pemerintahan. Prinsip –prinsip dasar tersebut telah tertulis dalam Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu ;
a.       prinsip tauhid,
b.      asy-syura (musyawarah),
c.       al adalah (keadilan) dan
d.      al-burriyah ma’a mas’uliyyah (kebebasan disertai tanggung jawab).
Sementara prinsip-prinsip manajemen yang berkaitan dengan teori kepemimpinan yang berdasarkan tolok ukur Islam meliputi :
a.         Akhlaqul karimah
b.        Penghormatan kepada akal manusia
c.         Tidak menentang fitrah manusia
d.        Memelihara kebutuhan sosial
e.         Pengambilan keputusan yang partisipatif
f.         Efisien/hemat. (Drs. Zulkarnaen M.Pd., 2008 : 36)

3.      Sifat – sifat Kepemimpinan

               Setiap orang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya daripada orang-orang yang di pimpin. Untuk menjadi pemimpin diperlukan adanya syarat-syarat tertentu, termasuk sifat sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin berbeda-beda menurut golongan dan fungsi jabatan yang dipegangnya.
                Seorang peneliti, Edwin Ghiselli, dalam penelitian ilmiahnya telah menunjukan sifat –sifat tertentu yang tampak penting untuk kepemimpinan efektif.  Sifat – sifat tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas ( supervisory ability ) atau pelaksanaan fungsi – fungsi dasar manajemen, terutama penagarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain.
2.      Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses.
3.      Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan daya fikir.
4.      Ketegasan ( decisiveness ), atau kemampuan untuk membuat keputusan – keputusan dan memecahkan masalah – masalah dengan cakap dan tepat,
5.      Kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah.
6.      Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara – cara baru atau inovasi.
Ordway Tead dalam tulisannya mengemukakan 10 sifat yaitu sebagai berikut :
1.      Energi jasmaniah dan mental (physical and nervous energy)
2.      Kesadaran akan tujuan dan arah ( A sense of purpose and direction)
3.      Antusiasme ( enthusiasm )
4.      Keramahan dan kecintaan ( friendliness and affection)
5.      Integritas ( integrity)
6.      Penguasaan teknis (teknical mastery )
7.      Ketegasan dalam mengambil keputusan ( decisiveness)
8.      Kecerdasan ( intellegence )
9.      Ketrampilan mengajar (teaching skill)
10.  Kepercayaan ( faith )
Selanjutnya, George R.Terry dalam bukunya “Priciples of Management “ menuliskan sepuluh sifat pemimpin yang unggul, yaitu :
1.      Kekuatan
2.      Stabilitas emosi
3.      Pengetahuan tentang relasi insani
4.      Kejujuran
5.      Obyektif
6.      Dorongan pribadi
7.      Ketrampilan berkomunikasi
8.      Kemampuan mengajar
9.      Ketrampilan sosial
10.  Kecakapan teknis atau keckapan manajerial. (Kartini Kartono, : 50 )
Prof. Dr. A. Abdurahman menyimpulkan macam-macam sifat kepemimpinan menjadi lima sifat pokok yang disebutnya panca sifat, yaitu :
1.      Adil,
2.      Suka melindungi,
3.      Penuh inisiatif
4.      Penuh daya penarik,
5.      Penuh kepercayaan pada diri sendiri. ( Ngalim Purwanto, 2012 : 53 )

4.     Fungsi – fungsi kepemimpinan

Aspek pertama pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi – fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan dengan efektif, seseorang harus melaksanakan dua fungsi utama :
1.      Fungsi – fungsi yang berhubungan dengan tugas ( “task-related”) atau pemecahan masalah
2.      Fungsi – fungsi pemeliharaan kelompok (“group – maintenance”) atau sosial.
Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat. Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancar.
Barthosn(1999 : 6) menyebutkan bahwa dalam memanjemen sumber daya manusia diterapkan fungsi –fungsi manajemen umumnya dan manajemen personalia. Hal ini berarti bahwa dasar dari manajemen sumber daya manusia tiada lain adalah fungsi-fungsi manajemen yang menurut Terry (2003: 15) sebagai (1) planning, (2)organizing, (3) actuating, dan (4) controlling.(Abdul Choliq, 2011: 23). Sedang siklus proses manajemen/kepemimpinan tersebut dapat ditampilkan sebagai berikut :

1.       PLANNING
2.       ORGANIZING
4.       ACTUATING
3.       CONTROLLING
 








                                  Diagram 1. Siklus proses Manajemen (Ali Imron, 2003: 6)

Perencanaan (planning) yang dilakukan seorang pemimpin untuk menyeleksi, menghubungkan fakta-fakta, membuat dan menggunakan asumsi dengan menggambarkan dan penyusunan kegiatan yang akan dilakukan. Langkah yang diambil dalam perencanaan antara lain dengan kegiatan (1) perumusan tujuan yang akan dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, (3) identifikasi dan pengarahan sumber yang jumlahnya terbatas. Sehingga rencana awal dalam sebuah organisasi dapat dilihat dari segi perencaan yang disusun dalam organisasi tersebut.
Pengorganisasian (Organizing), adalah langkah yang dilakukan setelah tujuan dan rencana-rencana organisasi ditetapkan. Usaha dalam rangka memahami munculnya kesulitan pokok yaitu keanekaragaman lingkungan yang diikuti dengan kesulitan perencanaan ukuran pengorganisasian  yang tepat.(Abdul Hamid Musri , 1998 : 77). Dalam pelaksanaan pengorganisasian ini diperlukan adanya koordinasi yang baik dengan mempersatukan kontribusi berbagai orang bahkan bahan dan sumber demi tercapainya maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini menunjukkan kerjasama antar personil dalam organisasi akan  mempermudah tercapainya tujuan dan menimbulkan keserasasian kerja dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Penggerakan (Actuating) sebagai bentuk pengarahan kerja yang perlu dilaksanakan dalam organisasi. Serangkaian peraturan yang berperan mengatur dan mempedomani proses interaksi sehingga peraturan dan tujuan yang akan dicapai akan berjalan sesuai dengan rencana dan terkoordinasi dengan baik. Menurut Stoner yang dikutuip oleh Abdul Kholiq (2011: 30) penggerakan (Actuating) adalah “proses mengarahkan (directing) dan mempengaruhi (influencing) kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tugas anggota kelompok atau organisasi secara keseluruhan”. Pengkondisian semacam ini bertujuan mengarahkan para pekerja agar lebih produktif, saling membantu, memperoleh kepuasaan dengan jalan mengembangkan hubungan antar sesama, dan memperkokoh eksistensinya. (Abdul Hamid Musri , 1998 : 135). Sehingga dalam fungsi penggerakan (actuating) seorang pemimpin dapat mengatasi ketidak cukupan persoanil (overcome personel in adiaquaries), dengan mempertimbangkan ketidak sesuaian antara orang dengan kedudukannya dalam organisasi, sehingga perlu pemimpin mempengaruhi individu-individu melalui organisasi untuk menjawab berbagai macam perubahan dan tekanan tanpa mengadakan penataan kembali (restructure)(Wahjo Sumidjo, 1999: 170).  Dalam pelaksanaan ditingkat organisasi yang dapat diambil dari fungsi penggerakan adalah perilaku yang banyak bekerja daripada berbicara dari pimpinannya , Let’s do more.
Pengawasan (Controlling), menjelaskan kegiatan yang melihat apakah kegiatan-kegiatan dilakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan pengawasan dalam manajemen meliputi : (1) mempertahankan standar kinerja, (2) mengukur kinerja saat ini, (3) membandingkan kinerja saat ini dengan standar yang harus dipertahankan, dan (4) melaksanakan tindakan koreksi bila terdeteksi adanya penyimpangan. (Abdul Kaoliq, 2011: 30). Selanjutnya yang perlu ditekankan dalam manejemen sebagai pengawasan kinerja adalah apa yang dilakukan ketika pencapaian tujuan yang telah direncanakan sesuai dengan apa yang diharapkan. Seandainya belum atau adanya ketidak sesuaian maka perlu langkah kuratif sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam palaksanaan dan tujuan.
Dan apa yang dikatakan Tony Bush(2000:28) dengan menyitir pendapat Hall, V:
It is not enough for leaders to have the vision, sell it and then move on, leaving others to translate  it into action. Implementation of the strategic plan needs continual monitoring and evaluation by those with the creative ability to understand where diversions may be appropriate and how obstacles can be surmounted. Strategic plans should be after all, liberating and not constraining

Dengan maksud bahwa tidaklah cukup bagi para pemimpin untuk memiliki visi, memaparkannya dan kemudian pindah, meninggalkan orang lain untuk menerjemahkannya ke dalam tindakan. Pelaksanaan rencana strategis memerlukan monitoring terus menerus dan evaluasi oleh orang-orang dengan kemampuan kreatif untuk memahami di mana hiburan mungkin cocok dan bagaimana hambatan dapat diatasi. Rencana strategis harus terlaksana setalah semua membebaskan dan tidak menghambat. Sehingga pelaksanaan dalam sutau organisasi melibatkan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya dengan pengawasan yang sesuai arah tujuan yang telah ditetapkan.

5.    Type dan Gaya Kepemimpinan
Ada berbagai tipe kepemimpinan yang secara umum sudah dikenal luas oleh masyarakat antara lain :
1.              Berdasarkan Orientasi kepemimpinan
2.              Kepemimpinan situasional
3.              Kepemimpinan Visioner
4.              Kepemimpinan Transformasional
5.              Kepemimpinan yang Cerdas. (LPMP Jawa Tengah, 2012: 2)

Para peneliti telah mengidentifikasikan tiga pola dasar gaya kepemimpinan yaitu  :
a.       berorientasi tugas ( task orientation ),
b.      berorientasi hubungan kerja (relationship orientation)
c.       berorietasi hasil yang efektif ( effetivess orientation ). (Kartini Kartono : 34 )
Menurut Tony Bush  (2000) ada dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan transformasional dan transaksional.
Prinsip yang dipraktekkan dalam kepemimpinan transformasional tidak hanya mengandalkan karisma pribadinya saja tetapi berusaha untuk menggali potensi staf dalam perkembangan dan sebagai fungsi kepemimpinan sebuah organisasi yang menguntungkan. Kepemimpinan transformasional lebih mengedepankan perbaikan dengan gaya :
Merangsang minat para rekan kerja dan yang dipimpin untuk melihat pekerjaan mereka dari perspektif baru.
Membangkitkan kesadaran visi dan misi organisasi
Mengembangkan kolegial dan yang dipimpin untuk tingkat kemampuan yang lebih tinggi.
Memotivasi rekan-rekan dan para pengikut untuk mampu mencapai diatas target mereka terhadap kelompok.
            Atau dapat dikatakan kepemimpinan transformasional :
1.      Idealised influence (leaders are seen as role models for others)
2.      Inspirational motivation.
3.      Intellectual stimulation.
4.      Individualized consideration (including leaders acting as coach or mentor to indiviuals in the instruction). (Tony, 2000 : 23)
Idealised influence (Pengaruh yang diidealkan) Pemimpin sebagai model ideal bagi pengikutnya. Pemimpin dikagumi, dihargai, dan dipercayai. Pengikut mengidentifikasi diri mereka dengan pemimpin dan ingin menirunya. Pemimpin dipandang pengikutnya punya kemampuan, daya tahan, dan faktor penentu yang luar biasa .
Inspirational motivation  (memotivasi yang inspiratif) Pemimpin  yang mampu memotivasi dan menginspirasi orang-orang yang ada di sekeliling mereka dengan memberi makna dan tantangan atas kerja yang dilakukan oleh para pengikutnya. Melalui  semangat tim meningkat, antusiasme dan optimisme ditunjukkan dalam melakukan sesuatu..
Intellectual stimulation ( Stimulasi intelektual) pemimpin yang merangsang usaha untuk selalu berkreatif dan berinovatif, dengan mempertanyakan anggapan dasar (asumsi), mempertanyakan pembaharuan dari pendekatan lama.
Individualized consideration ( Pertimbangan Individu) Pemimpin yang memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan setiap pengikut dalam rangka mencapai prestasi dan perkembangan yang diharapkan dengan tindakan,sekaligus sebagai pelatih dan pembimbing.  Pengikut dan para kolega akan mampu mencapai potensi tertinggi mereka. Pertimbangan individual yang memiliki karakteristik yang berbeda dan kebuthan individu yang berbeda sehingga penempatan kinerja sesuai dengan kemampuan individu masing-masing.
Dalam kepemimpinan transformasional berkaitan dengan upaya perubahan yang diharapkan. Sehingga akan membantu anggota staf untuk berkolaborasi, memotivasi pengembangan.

Kepemimpinan transaksional lebih menekankan pada penguatan dan penghargaan. Kepemimpinan transaksional dibutuhkan pada mereka dengan manajemen rutin. Pemimpin yang memimpin dengan model transaksi/ pertukaran sosial. Pemimpin bisnis bercorak transaksional menawarkan reward bagi anggota yang memiliki  produktivitas atau tidak memberi reward  karena kurang produktif. Bidang yang biasa menggunakan gaya kepemimpinan transaksional adalah bidang bisnis dan industri, pemerintah, lembaga pendidikan militer, dan organisasi non-profit. Dapat diperhatikan perbedaan yang timbul dengan gaya transformasional dan transaksional dengan skema kuadran situasional Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard :












Perilaku Pemimpin
 



Participating
Tinggi
Perilaku Mendukung
Perilaku Hubungan (Relationship Behavior)
S 3

Berbagai ide dan memberi fasilitas dalam pembuatan kebutuhan
S 2
Selling

Menjelaskan keputusan dan menyediakan kesempatan membuat perbaikan





High Task
Low Task
Low Rel
Delegating
Rendah
S4

Mendelagasi tanggung jawab pembuatan keputusan dan penerapannya
Low Rel
Telling
S 1
s
Menyedian instruksi rinci dan mengawasi kinerja dari dekat
Perilaku Mengatur
Tinggi
Kesiapan Pengikut
Rendah
Perilaku Kerja (Task Behavior)




Tinggi
moderat
Rendah
R4
R3
R2
R1
Mampu dan mau atau percaya diri
Mampu tapi tidak mau, tidak aman
Tidak mampu tapi mau dan percaya diri
Tidak mampu, tidak mau juga tidak percaya diri
Pemimpin Mengatur
Pengikut Mengatur


D.  Pemimpin memprtimbangkan siuasi sebelum memutuskan dengan kemampuan pengikut untuk memahami tujuan organsiasi dan mempredeksi kemampuan mereka dalam pencapaiannya. Kesiapan disini  tergantung kepada pekerjaan yang akan dilakukan oleh pengikutnya, hal ini dilihat dari seberapa banyak pelatihan  yang pernah mereka terima, seberapa komitmen terhadap organisasi dan seberapa besar kemampuan teknis dalam menjalankan tugas yang akan diemban.




KESIMPULAN
     Pemimpin adalah inti dari manajemen. Manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mengendalikan pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menayakan alasan – alasannya. seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana – rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama – sama.
           Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang – orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan. Yaitu mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang – orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang memimpin.
              Untuk menerapkan manajemen dalam suatu organisasi diperlukan adanya kepemimpinan yang ciri – cirinya berbeda denga kepemimpinan yang tidak untuk meraih mutu. Manajemen diterapkan dalam organisasi yang melihat tugas organisasinya tidak sekedar melaksanakan tugas rutin, yang sama saja dari hari ke hari berikutnya. Semua sudah ditentukan standarnya, dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka bereslah segalanya. Manajemen juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar ini bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan.














BIBLIOGRAFY

Bush T and Colemen, Marianne, 2000, Leadership and Strategic Management in Education, London, Paul Chapman Publishing, Ltd.
Choliq, Abdul MT, 2011, Kunci Sukses Kepemimpinan Pendidikan Melalui Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : Trust Media.
Daryanto, 2011, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran, Yogyakarta : Gava Media.
Hamid Mursi, Abdul, Dr., 1998,  SDM Yang Produktif pendekatan Al Qur’an dn Sains,Jakarta : Gema Insani Press
Handoko T. Hani , 1984, Manajemen Edisi 2, Yogyakarta :BPFE http://artikelrande.blokspot.com/2010/07/manajemen kepemimpinan_6811.html
Imron Ali, 2003 Manajemen Pendidikan Analisis Substantif dan Aplikasinya dalam Institusi Pendidikan, Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang
James K. Van Fleet, 1973,  Manajemen Kepemimpinan, Jakarta:Mitra
Kartini Kartono, 2011, Pemimpin dan Kepemimpinan Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu ?, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah, 2012, Kumpulan Materi Diklat Kepala Sekolah Kabupaten Wonosobo, Semarang.
M. Ngalim Purwanto, 2012, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Purwanto, yadi, 2001, makalah: manajemen, Jakarta : PT.Cendekia Informatika.
Rohiat, 2010, Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik Dilengkapi dengan Contoh Rencana Strategis dan Rencana Operasional, Bandung : Refika Aditama
Sunandiah, dan Widiyani Nini, Kepemimpinan Dalam Masyarakat Modern, Jakarta : Rineka Cipta.
W. Brown steven, 1998, manajemen kepemimpinan, Jakarta: Profesional books
Wahjosumidjo, 1999, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahanya, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Zulkarnain, 2008, Transformasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Manajemen Berorientasi Link and Mactch, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.