Laman

Minggu, 16 Maret 2014

 PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
 DALAM PEMBELAJARAN SISWA


A.    Pendahuluan


Pendidikan adalah hak asasi manusia, yang bersifat demokratis, terbuka , tidak ada diskriminasi dan menjangkau semua warga Negara tanpa kecuali. Dalam pelaksanaan pendidikan , siswa yang mengalami kesulitan belajar , memiliki kebebasan dalam mengembangkan potensi diri.
                        Faktor yang menyebabkan problem belajar bisa terjadi karena kecerdasan yang dimiliki, kesehatan sering terganggu, perubahan emosional yang tidak stabil, gangguan perseptual, gangguan motorik, penguasaan cara belajar yang baik. Hal ini biasa datang dari dalam diri siswa.
Problematika yang berasal dari luar diri siswa diantaranya adalah berasal dari faktor keluarga dan lingkungan antara lain adalah kemampuan ekonomi orang tua yang kurang memadai, pengawasan dan perhatian orang tua yang kurang, harapan orang tua yang terlalu tinggi, hubungan dalam keluarga yang kurang harmonis. Sedangkan factor yang berasal dari lingkungan dapat dilihat dari sisi pengaruh social yang tidak mendukung peningkatan mutu pendidikan, pengaruh teknologi dan informasi, dan pengaruh pola hidup di masyarakat.
                        Problematika anak dalam belajar yang disebabkan kemampuan dasar anak. Pemerintah sudah menyediakan tempat khusus atau satuan pendidikan luar biasa. Mereka umumnya dikenal sebagai anak berkesulitan belajar, lamban belajar, anak malas, anak bodoh, dan lain-lain ada yang memperkirakan berkisar antara 1 % - 3 % . Di Amerika dan di Eropa Barat, anak berkesulitan belajar diperkirakan mencapai 15% dari populasi anak sekolah dasar ( Gaddes,1985). Di Indonesia , prevalensi anak dengan problem belajar diperkirakan lebih besar.[1] Penyabab hal tersebut adalah kurang gizi pada ibu Hamil, bayi dan anak, diare, penyait persalinan, serta infeksi susunan saraf pusat pada bayi.
                        Kurangnya pelayanan pendidikan yang optimum pada anak-anak yang mengalami problematika belajar akan berdampak pada tingginya angka pengulangan kelas dan rendahnya angka kelulusannya.pada tahun 1998 angka kelulusan SD hanya mncapai 70 % yang artinya ada 30 % anak Indonesia tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar.[2]
                        Sekolah sebagai suatu sistem dengan tujuan pencapaian pendidikan dapat bersinergi terhadap pemecahan permasalah yang timbul dalam problematika pembelajaran. Dengan memperhatikan bagian-bagian yang terkait dengan sistem dan interaksi satu sama lainnya. Manajemen pendidikan dengan memperhatikan komponen input dan proses pendidikan. Proses inilah yang yang menyebabkan perubahan yang lebih baik.
                        Temuan dilapangan tentang siswa yang mengalami problematika pembelajaran disekolah umum diperlukan penanganan secara prefentif maupun kuratif. Tindakan yang diambil sebagai konsekwensi penyelenggaraan pendidikan yang bersifat transparan  bagi semua warga Negara. Penanan Bimbingan dan konseling di sekolah diperlukan dalam rangka antisipasi permasalahan pendidikan yang berkaitan dengan permasalahan dalam belajar dapat diminimalkan dengan penanganan khusus dari bimbingan guru.
                        Sumbangan yang diberikan dalam bimbingan dan penyuluhan bagi anak didik dapat mengacu pada teori psikoanalitik yang mencakup : (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia; (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar; (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa; (4) Cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan; (5) cara-cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.[3] Acuan teori psikonalitik yang dicetuskan Sigmud Freud, memberikan pandangan terhadap permasalahan problematika belajar pada anak dilihat dari sisi kepribadian, sifat manusia dan metode psikoterapi.
                        Aspek yang perlu diperhatikan dalam memberikan solusi pada anak yang mengalami problema pembelajaran adalah melihat identifikasi di bidang kognitif , perseptif,  aspek social dan kesehatan, mengacu pada identifikasi anak yang mengalami problem belajar dengan melihat :
-          Informasi riwayat perkembangan anak
-          Informasi / data rang tua anak / wali siswa
-          Informasi profil (gambaran secara umum) anak berproblema belajar
            Dari identifikasi problematika anak perlu diteruskan dengan tindak lanjut perbaikan dan pelayanan bagi siswa dengan problematika pembelajaran. Konsep guru dalam pembelajaran dari teaching ke learning dapat membantu siswa yang mengalami problematika pembelajaran.
                        Memahami konsep manusia tidak ada yang sempurna, memberikan pandangan luas dalam memahami kondisi setiap manusia.[4] Dengan kata kunci  untuk memahami konsep diri manusia tidak dapat mengabaikan relasi antar manusia. Bahwa manusia itu ada-dengan-partisipasi (being-by-participation), yaitu manusia masuk ke dalam ‘ada’ individualnya dengan persekutuannya dengan manusia-manusia lainnya melalui cinta, harapan, dan kepercayaan.[5]
                        Dengan memperhatikan problematika anak dalam proses belajar maka peranan Bimbingan dan konseling bagi siswa adalah memberikan bantuan solusi bagi problematika pembelajaran. Sebagai pencerahan bagi siswa yang mengalami permaslahan pebelajaran sehingga mampu mengaktualisasi kecerdasan yang dimiliki yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.
                        Dengan demikian seharusnya sekolah mampu menyesuaikan kondisi objektif anak, tidak hanya menggunakan pendekatan logika, tetapi juga pendekatan psikologis dan religius. Guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif yang mendorong siswa mampu mengembangkan kepribadiannya dalam iklim sekolah yang sarat dengan aktifitas yang menyenangkan.




B.     Permasalahan
Melihat kondisi riil dilapangan pada dekade terakhir data problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia sudah sangat memerlukan bimbingan secara intensif bagi siswa yang mengalami permasalahan pembelajaran.Permasalahan Interpersonal dari siswa yang merupakan aspek intern pribadi, dan terkait dengan aspek eksternal yang berkaitan dengan keluarga dan masyarakat, maka dimanakah letak dan fungsi bimbingan. Dengan melihat latar belakang tersebut maka bisa dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana peranan Bimbingan dan konseling  di sekolah?
2.      Tindakan apa sajakah yang diperlukan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
3.      Bagaimana pendekatan Islami yang digunakan untuk memberikan solusi bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar?


C.    Pembahasan Masalah


                        Menyadari manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri pada manusia maka semakin besar kebebasan yang ada diri seseorang dalam memilih alternatif bertindak dan bertanggung jawab. Permasalahan akan muncul apabila seorang tak mampu untuk mengambil keputusan dalam hal tertentu yang memerlukan sumbang saran dan bimbingan dari fihak lain.



1.      Mengenal Bimbingan dan Konseling
                        Pengertian Bimbingan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu; tuntunan; pimpinan.[6] Sedangkan Konseling dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemberian bimbingan kepada yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan pengarahan, Konseling dapat diartikan juga sebagai pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memcahkan berbagai masalah; penyuluhan.[7] Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan secara sadar kepada siswa yang membutuhkan bantuan penyelesaian problematika pembelajaran.
            Sementara ini sebagian besar pendapat  fungsi Bimbingan hanya untuk menangani anak yang melakukan pelanggaran saja. Sebagai contoh anak yang tidak mau mengerjakan PR maka guru menyuruh anak lapor ke BP untuk mendapatkan point negatif. Anak yang tidak menggunakan seragam sekolah dengan benar lapor BP untuk dibina dan mendapat point, anak yang terlambat lapor BP untuk mendapatkan ijin masuk kelas. Hal-hal semacam itulah yang sering muncul dalam benak kita sebagai pendidik atau benak siswa yang lain. Tanggapan bimbingan belum pada taraf penyelesaian sesuatu yang tepat pada seorang pelajar.
Tujuan diadakan bimbingan di dalam sekolah antara lain :
a.       Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
b.      Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
c.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kesehatan jasmani.
d.      Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi.
e.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan   masalah  sosial  dan  
emosional di sekolah yang bersumber dari sikap siswa yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, dan lingkungan yang lebih luas.
                        Apabila fungsi bimbingan yang dilaksanakan di sekolah  berjalan dengan baik maka  penyelewengan perilaku siswa dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang berbudi pekerti yang luhur akan mudah tercapai.
Bimbingan yang diberikan secara Islami memberikan penghargaan harkat dan martabat manusia memiliki fitrah yang suci , sedangkan nafsu selalu berusaha untuk menggoda atau menyelewengkan manusia dari kesucian dan kebenaran. Konsep diri terbagi atas konsep diri yang negatif dan konsep diri positif. Karakteristik mengenai konsep diri yang negatif secara umum tercermin dari keadaan diri sebagai berikut :
a.       Individu sangat peka dan mempunyai kecenderungan sulit menerima kritik dari orang lain. Kritik dipandang sebagai pengabsahan lebih lanjut kepada inferioritas mereka.
b.      Individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara dengan orang lain. Sikap yang hiperkritis dipergunakan untuk mempertahankan citra diri yang goyah, dan mengarahkan kembali perhatian kepada kekurangan dari orang lain daripada kekurangan dirinya sendiri.
c.       Individu yang sulit mengakui bahwa ia salah. Terdapat kompleks penyiksaan di mana kegagalan ditempatkan pada rencana tersembunyi dari orang lain dan kesalahan ditujukan kepada orang lain. Dengan kata lain, kelemahan pribadi dan kegagalan diri tidak mau diakui sebagai bagian dari dirinya sendiri.
d.      Individu yang kurang mampu mengungkapkan perasaan dengan wajar , sering terdapat respon yang berlebihan terhadap sanjungan.
e.       Individu dengan konsep diri negative berkecenderungan untuk menunjukkan sikap mengasingkan diri , malu-malu dan tidak ada minat pada persaingan. Sikap menarik diri dan menolak untuk berpartisipasi merupakan suatu upaya untuk mencegah inferioritas terpublikasikan secara terbuka sehingga mengkonfirmasikan apa yang diyakini oleh orang lain mengenai dirinya.[8]
                        Permasalahan dalam konsep pribadi yang negatif akan berdampak dalam proses pembelajaran bagi peserta didik. Sehingga perlu bimbingan arahan jangan samapai konsep pribadi yang negatif tersebut meluas sehingga memunculakan pribadi yang negatif pula. Hal ini perlu dilakukan  bimbingan individual dalam membantu menemukan konsep dirinya yang baik dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Memberikan berbagai jawaban yang terpisah dari pertanyaan “siapakah saya ini?”
b.      Menfokuskan kejadian apa yang baru saja dialami dengan meraskan pengalaman yang sensasi dan emosi yang terjadi.
c.       Membuat sketsa singkat tentang diri dan ideal diri, lakukan penyelarasan.
d.      Mengadakan relaksasi dengan menfokuskan anggota tubuh secara bergantian
Usaha yang ditempuh tersebut merupakan langkah penstabilan konsep diri agar tidak memunculkan konsep diri yang negative.
Konsep diri tersebut dapat dikaitkan dengan proses belajar sebagai penambahan pengetahuan, dan proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuan yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja).[9] Kesulitan yang timbul dari siswa dalam pembelajaran akan terminimalisir bila setiap anak memiliki konsep diri yang positif.

2.      Peranan Bimbingan dan Konseling Dalam Pembelajaran Siswa

            Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut :[10]
a)      Hasil belajarnya rendah, dibawah rata-rata kelas
b)      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya.
c)      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta, tidak mau
       menyelesaikan tugas-tugas dan sebagainya.
d)     Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.
            Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.[11]



3.      Konseling Islami Sebagai Solusi
                        Bimbingan Konseling Islami yang diberikan harus mengacu pada fungsi pendidikan islam itu sendiri, yaitu :
a.       Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, lam sekitarnya dan mengenai kebesaran Ilahi, sehingga tumbuh kreativitas yang benar.
b.       Mensucikan diri manusia dari syirik dan berbagi sikap hidup dan perilaku yang dapat mencemari fitrah kemanusiaanya; dengan menginternalisasi nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik; dan
c.       Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individual maupun sosial.[12]
                        Konsep Islam tersebut akan memberikan kontribusi positif pada setiap anak yang mengalami gangguan belajar, baik yang disebabkan dari faktor internal maupun eksternal.
                                    Peranan bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami mempunyai misi yang sama dlam proses pencapaian pembelajaran. Tetapi ada perbedaan yang cukup signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi. Bimbingan Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas fitrah dan kuasa Allah. Tinggal manusia mampu menyesuaikan dengan peraturan Allah atau membangkangnya.Dalam segi agama hal-hal penyimpangan tingkah laku, akidah sudah disebutkan dan diberikan contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
                        Dengan kekuatan iman dan ikhsan manusia tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan. Fungsi Islam disini sebagai acuan norma dan aturan yang waib diikuti oleh pemeluknya. Oleh karena itu islam yang mengangkat manusia adalah makhluk dengan kridibiltas suci diawal keberadaan di dunia, dapat terkontaminasi peradaban dan budaya yang tidak sesuai dengan kodratnya apabila tidak mampu menjaga dan memelihara kesucian tersebut.
{فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29)} [الحجر: 29]

29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

( yang dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.)
Hadits Nabi :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ..(مسند أحمد ، بترقيم الشاملة آليا)
Artinya : dari abu hurairah sesungguhnya Rasulullah bersabda : “ setiap kelahiran (anak yang lahir) berada dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang mempengaruhi anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R.Ahmad)

                                                                                                                                                         
                 Maka manusia yang mampu bersyukur  atas nikmat Allah SWT dalam arti menggunakan dengan cara yang sebaik-baiknya , perlu bantuan dari luar dirinya yaitu pengaruh  lingkungan yang positif  konstruktif  dan   mendidik.    Dengan  kata     lain bimbingan  terhadap anak secara islami dengan memberikan  bantuan   yang   terarah, kontinyu   dan  sistematis  kepada  setiap  individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau  fitrah beragama yang dimilikinya  secara optimal dengan cara menginternalisasikan   nilai-nilai yang terkandung di dalam Al Qur’an dan Hadits.[13]
.

D.    Kesimpulan
                        Peranan bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami            mempunyai misi yang sama dalam proses pencapaian pembelajaran. Tetapi ada          perbedaan yang cukup signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi.       Bimbingan Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas fitrah dan kuasa   Allah. Tinggal manusia mampu menyesuaikan dengan peraturan Allah atau             membangkangnya. Dalam segi agama hal-hal penyimpangan tingkah laku, akidah         sudah disebutkan dan diberikan contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
                        Apabila fungsi bimbingan yang dilaksanakan di sekolah  berjalan dengan baik maka  penyelewengan perilaku siswa dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang berbudi pekerti yang luhur akan mudah tercapai.

           











Daftar Pustaka



Ahmadi, abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semarang: Toha Putra.
Achmadi.1992. Islam sebagai paradigm Ilmu pendidikan,Semarang : Aditya Media
Achsan Husairi, 2008 .Manajemen Pelayanan Bimbingan & Konseling di Sekolah, Depok, Arya Duta
Corey ,Gerald.  2010 .Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,  Bandung : PT Refika Aditama
Hutagalung, Inge, M.Si. Dra.Hj. 2007.Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif, Jakarta : Pt Indeks
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.2007.Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Jakarta : Balai Pustaka
Sulhan,Najib, M.A. Drs. 2010. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran Guru Menuju sekolah efektif, Surabaya : Surabaya Inteletual Club
Tohirin, 2009, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah dan Madrasah Jakarta, Rajawali
Yusuf, Munawir. 2003. Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar , Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri



[1] Munawir Yusuf, Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar (Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), hlm . 4
[2]Ibid, hlm. 5
[3] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, ( Bandung : PT Refika Aditama, 2010), hlm. 14
[4] Drs. Najib Sulhan, M.A. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran Guru Menuju sekolah efektif, (Surabaya : Surabaya Inteletual Club, 2010), hlm.11
[5]Dra. Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif, (Jakarta : Pt Indeks, 2007), hlm. 23
[6] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  (Jakarta : Balai Pustaka, 2007),  hlm. 152
[7]Ibid, hlm. 588
[8]Dra. Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan …, hlm. 23
[9][9]  Najib Sulhan, M.A. Pembangunan Karakter Pada Anak …hlm.5
[10]  AbuAhmadi  ,  Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. (Semarang: toha putra,1977), hlm.23
                [11]  Ibid, hal .24
[12] Achmadi, Islam sebagai paradigm Ilmu pendidikan, (Semarang : Aditya Media, 1992), hlm. 25
[13]Dra.Hallen A., M.Pd. BimbingandanKonseling, (Jakarta : PT Ciputat Press, 2005), hlm. 16