KEPEMIMPINAN DAN
PENDIDIKAN ISLAM
A.
PENDAHULUAN
Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau
tercapainya tujuan pendidikan Islam diantaranya adalah kinerja pemimpin. Pemimpin
yang baik adalah dapat mengkombinasikan kualitas kepemimpinan dengan kekuatan stekholder
dalam pendidikan menjadi potensi pengembangan mutu pendidikan. Kemampuan
menciptakan pengaruh yang kuat kepada bawahannya dan koleganya. Seseorang yang
mempunyai posisi sebagai pemimpin dalam suatu organisasi mengemban tugas untuk
melaksanakan kepemimpinan. Dengan kata lain pemimpin adalah orangnya dan
kepemimpinan atau leadership adalah kegiatannya. Keberhasilan organisasi
dalam mencapai tujuan, visi dan misi merupakan bentuk proyeksi dari keberhasilan kepemimpinan organisasi
tersebut.
Keterkaitan
kepemimpinan dan pendidikan Islam dapat ditunjukkan
dengan mutu dan daya saing pendidikan Islam yang diselenggrakan oleh institusi
pendidikan. Efektifitas dan efisiensi kepemimpinan dalam pengembangan
pendidikan Islam secara bersinergi mempengaruhi moral dan kepuasan kerja,
keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi pendidikan
Islam. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membentuk konsep pendidikan Islam secara baik. Kemudian timbul pertanyaan : bagaimana
kaitan kepemimpinan dengan pendidikan Islam? , mampukah seorang pemimpin
memberikan warna pendidikan Islam ? sejauhmana kepemimpinan efektif terhadap
pendidikan Islam.
Kepemimpinan yang mempunyai
fungsi menentukan kegunaan dan fungsi ssesuatu, maka posisi
pendidikan islam tidak hanya hanyut dalam dinamika perubahan tetapi dapat
memberikan peranan dalam agen perubahan tersebut. Hal ini tentunya tak lepasa
dai peran kepemimpinan yang mamapu menentukan arah kebijakan yang berjalan
seiring dengan efektifitas pendidikan Islam itu sendiri. Kreativitas
kepemimpinan yang menunjukkan kecerdasan seseorang akan optimal bila
mengoptimalkan kerja akal. Efektifitas kepemimpinan
dapat dilihat dari sifat-sifat kualitas kepemimpinan ketika
merencanakan, mengorganisasi, menggerakan dan mengawasi jalannya kegiatan. Sebagai contoh, pemimpin yang memiliki sifat kharismatik, berpandangan kedepan, intensitas dan keyakinan diri. Hal itu akan dibahas
dalam pembahasan makalah ini.
Selanjutnya bagaimana dengan kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan merupakan faktor
penting dan efektif dalam sebuah organisasi ? Apabila
dalam sebuah organisasi mampu mengidentifisikan
kualitas – kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, maka kemampuan untuk
menyeleksi pemimpin – pemimpin efektif akan meningkat. Hal ini akan berimbas
pada organisasi dalam kegiatan berdasarkan pada perencaan yang matang dan
dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga hasil yang dicapai akan mendekati apa
yang telah direncanakan sebelumnya. Sehingga dalam mengidentifikasi prinsip-prinsip
kepemimpinan efektif, dalam organisasi barang kali
dapat dilakukan dengan mempelajari berbagai perilaku
dan teknik kepemimpinan yang akan dicapai pengembangan efektif personalia dan
organisasi.
B.
KERANGKA TEORI
Kepemimpinan adalah
bagian penting manajemen, tetapi tidak sama dengan manajemen. Kepemimpinan
merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar
bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Manajemen mencakup kepemimmpinan, tetapi
juga mencakup fungsi – fungsi lain seperti perencanaan, pengorganisasian dan
pengawasan.
Pada mulanya manajemen belum dapat dikatakan sebuah teori, kemudian waktu
berselang dapat sebagai bidang pengetahuan karena telah memenuhi persyaratan
yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja
sama. Manajemen merupakan suatu proses yang memiliki komponen-komponen yang
memenuhi kebutuhan suatu sistem dengan aspek organisasi yaitu orang, struktur,
tugas-tugas dan teknologi. Dan bagaimana mengkaitkan aspek yang satu dengan
yang lain serta bagaimana mengaturnya sehingga tercapai tujuan sistem. (Rohiat,
2010 : 2)
Kepemimpinan sebagai
salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai
tujuan organisasi. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan
hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri
seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran
dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan
visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace)
dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan
tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika
keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah
seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Dapat diterjemahkan dalami istilah sifat-sifat, perilaku pribadi,
pengaruh terhadap orang lain, pola interkasi, hubungan kerja sama antarperan,
kedudukan dari suatu jabatan administrative, dan persepsi dari lain-lain tentang
legitimasi pengaruh. (Wahyosuidjo: 1999 : 17) . Jadi pemimpin bukan sekedar
gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan
berkembang dari dalam diri seseorang.
C.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Kepemimpinan
Ada
beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli. Menurut E. Mulyasa (2005 :
17 ) kepemimpinan diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang
yang diarahkan terhadap tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan
menurut Hasibuan ( 2001 : 167 ) adalah : “ Kepemimpinan adalah cara seorang mempengaruhi
perilaku bawahan, agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk
mencapai tujuan organisasi “. Kepemimpinan
adalah kemampuan memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain
untuk melakukan satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah dicanangkan
(Kartini Kartono : 2011 : 153 )
Dari
definisi yang berbeda-beda tersebut mengandung kesamaan asumsi yang bersifat
umum, seperti ;
a.
Di dalam
satu fenomena kelompok melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih;
b.
Didalam melibatkan proses mempengaruhi, dimana
pengaruh yang disengaja digunakan oleh pemimpin terhadap para bawahan.
(Wahyosumijo : 1999 ; 17)
Kepemimpinan
adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang – orang lain agar mau bekerjasama
untuk mencapai tujuan tertuntu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok
yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu mempengaruhi perilaku orang
lain. Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang – orang
yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan atau diarahkan oleh
orang yang memimpinnya. Istilah kepemimpinan dan manajemen kadang-kadang
digunakan secara bergantian atau dianggap sebagai sinonim. Kepemimpinan biasa
dikaitkan dengan visi, dan nilai-nilai sedangkan manajemen sering digunakan
dalam istilah yang berhubungan dengan proses dan struktur. Kepemimipinan telah
diidentifikasi dengan aspek yang penting dalam kesuksesan suatu organisasi,
sementara manajemen hanya diletakkan ditaraf yang kedua. Sehingga perlu adanya
pemupukan potensi kualitas kepemimpinan.
Manajemen,
kepemimpinan (leadership) telah didefinisikan dengan berbagai cara yang
berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula. Menurut Stoner, kepemimpinan
manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian
pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan
tugasnya. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut :
Pertama, kepemimpinan
menyangkut orang lain – bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima
pengarahan dari pemimpin, para anggota kelompok membantu menentukan
status/kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa
bawahan, semua kualitas kepemimpinan seorang manajer akan menjadi tidak
relevan.
Kedua, kepemimpinan
menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara para
pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk
mengarahkan berbagai kegiatan para anggota kelompok, tetapi para anggota
kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung,
meskipun dapat juga melalui sejumlah cara tidak langsung.
Ketiga, selain dapat
memberikan pengarahan kepada para bawahan
atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh. Dengan kata
lain, para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus
dilakukan tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan
perintahnya. Sebagai contoh, seorang manajer dapat mengarahkan seorang bawahan
untuk melaksanakan suatu tugas tertentu, tetapi dia dapat juga mempengaruhi
bawahan dalam menentukan cara bagaimana tugas itu dilaksanakan dengan tepat.
Menurut Buchari
Zainun, leadership atau kepemimpinan dapat diartikan ebagai suatu
kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kemampuan untuk mencapai
cita-cita dengan keberanian mengambil resiko yang bakal terjadi. (Sunandiah,
1993 : 14). Dengan demikian seorang pemimpin memiliki kekuataan untuk
menggerakkan, bahkan sampai tingkat mengontrol kegiatan dalam mencapai sesuatu.
Sifat yang dimiliki oleh masing-masing orang dalam sebuah kepemimpinan memiliki
karakteristik serta teknik yang berbeda menurut situasi dan kondisi. Perbedaaan
yang muncul dalam kepemimpinan akan berpengaruh dalam kontek pengambilan
keputusan dan kebijkan yang menyangkut organisasi dalam arti yang luas. Lebih
luas lagi kepemimpan partisipatif (participative leadership) bukan
semata-mata dalam proses pengangkatannya saja secara demokratis melainkan cara
kepemimpinan yang melibatkan semua anggota baik peran aktif maupun keputusan
yang diambil diimplikasikan untuk kepentingan bersama sehingga semua anggota
keorganisasian tunduk dan patuh dengan penuh kesadaran.
Maka dapatlah
disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah kemampuan potensial diri dalam
usaha merencanakan mengaktualisasikan dengan keberanian mengambil resiko untuk
mencapai cita-cita dan harapan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
2.
Prinsip
– Prinsip Kepemimpinan
Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa
ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang
kuat untuk membangun dirinya atau organisasi.
Prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi.
Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah
kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber
utama system pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti ;
keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana dan kekuatan.
Pemimpin adalah inti
dari manajemen dengan arti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada
pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang
pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan
mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan
alasan – alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat
rencana – rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan
untuk mencapai tujuan bersama - sama. Dalam dunia pendidikan, pemimpin utamanya
adalah kepala sekolah, yang memiliki peran strategis sebagai top leader,
sehingga harus memiliki prinsip didalam mengelola stakeholder yang ada,
dengan mengembangkan manajemen berbasis sekolah dengan pola kepemimpinan
transformasional.
“ Terdapat 4 faktor
untuk menuju kepemimpinan yang
transformasional, yaitu :
1.
Kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat
dijadikan panutan bagi guru dan karyawanya, dipercaya, dihormati dan mampu
mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan sekolah.
2.
Kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru
dan karyawannya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung
semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.
3.
Kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas
dan inovasi dikalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis
dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah yang lebih baik.
4.
Kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih
dan penasihat bagi guru dan stafnya “. ( Drs. Daryanto, 2011 : 146 )
Indonesia memiliki pemimpin yang
baik, antara lain Ki Hajar Dewantara. Beliau
adalah tokoh dan pelopor pendidikan yang mendirikan sekolah Taman Siswa pada
tahun 1922. Tiga Prinsip
Dasar Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara adalah:
1.
Ing ngarsa sung tulada. Artinya,
di depan memberi teladan. Pemimpin harus menjadi contoh bagi anak buahnya.
2.
Ing madya mangun karsa. Artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Pemimpin harus
berjuang bersama anak buah.
3.
Tut wuri handayani.
Artinya, dari belakang memberikan dorongan. Ada saatnya pemimpin membiarkan
anak buah melakukan sendiri.
Ketiga prinsip tersebut, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun
karsa, tut wuri handayani, perlu dilakukan sesuai dengan tingkat kepentingan
Dalam
pandangan Islam, memberikan prinsip-prinsip dasar dan tata nilai dalam
mengelola suatu organisasi atau pemerintahan. Prinsip –prinsip dasar tersebut
telah tertulis dalam Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu ;
a.
prinsip tauhid,
b.
asy-syura (musyawarah),
c.
al adalah (keadilan) dan
d.
al-burriyah ma’a mas’uliyyah (kebebasan
disertai tanggung jawab).
Sementara
prinsip-prinsip manajemen yang berkaitan dengan teori kepemimpinan yang
berdasarkan tolok ukur Islam meliputi :
a.
Akhlaqul karimah
b.
Penghormatan kepada akal manusia
c.
Tidak menentang fitrah manusia
d.
Memelihara kebutuhan sosial
e.
Pengambilan keputusan yang partisipatif
f.
Efisien/hemat. (Drs. Zulkarnaen M.Pd., 2008 :
36)
3.
Sifat – sifat Kepemimpinan
Setiap
orang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang
dimilikinya daripada orang-orang yang di pimpin. Untuk menjadi pemimpin diperlukan
adanya syarat-syarat tertentu, termasuk sifat sifat yang harus dimiliki seorang
pemimpin berbeda-beda menurut golongan dan fungsi jabatan yang dipegangnya.
Seorang peneliti, Edwin Ghiselli, dalam penelitian ilmiahnya telah menunjukan
sifat –sifat tertentu yang tampak penting untuk
kepemimpinan efektif. Sifat – sifat
tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas ( supervisory ability
) atau pelaksanaan fungsi – fungsi dasar manajemen, terutama penagarahan dan
pengawasan pekerjaan orang lain.
2.
Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung
jawab dan keinginan sukses.
3.
Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan daya fikir.
4.
Ketegasan ( decisiveness ), atau kemampuan untuk membuat keputusan –
keputusan dan memecahkan masalah – masalah dengan cakap dan tepat,
5.
Kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan
untuk menghadapi masalah.
6.
Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung,
mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara – cara baru atau inovasi.
Ordway
Tead dalam tulisannya mengemukakan 10 sifat yaitu sebagai berikut :
1.
Energi jasmaniah dan mental (physical and
nervous energy)
2.
Kesadaran akan tujuan dan arah ( A sense of
purpose and direction)
3.
Antusiasme ( enthusiasm )
4.
Keramahan dan kecintaan ( friendliness and
affection)
5.
Integritas ( integrity)
6.
Penguasaan teknis (teknical mastery )
7.
Ketegasan dalam mengambil keputusan ( decisiveness)
8.
Kecerdasan ( intellegence )
9.
Ketrampilan mengajar (teaching skill)
10.
Kepercayaan ( faith )
Selanjutnya,
George R.Terry dalam bukunya “Priciples of Management “ menuliskan
sepuluh sifat pemimpin yang unggul, yaitu :
1.
Kekuatan
2.
Stabilitas emosi
3.
Pengetahuan tentang relasi insani
4.
Kejujuran
5.
Obyektif
6.
Dorongan pribadi
7.
Ketrampilan berkomunikasi
8.
Kemampuan mengajar
9.
Ketrampilan sosial
10.
Kecakapan teknis atau keckapan manajerial.
(Kartini Kartono, : 50 )
Prof. Dr. A.
Abdurahman menyimpulkan macam-macam sifat kepemimpinan menjadi lima sifat pokok
yang disebutnya panca sifat, yaitu :
1.
Adil,
2.
Suka melindungi,
3.
Penuh inisiatif
4.
Penuh daya penarik,
5.
Penuh kepercayaan pada diri sendiri. ( Ngalim
Purwanto, 2012 : 53 )
4.
Fungsi – fungsi kepemimpinan
Aspek pertama
pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi – fungsi yang dilakukan
pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan dengan efektif, seseorang
harus melaksanakan dua fungsi utama :
1.
Fungsi – fungsi yang berhubungan dengan tugas ( “task-related”) atau
pemecahan masalah
2.
Fungsi – fungsi pemeliharaan kelompok (“group – maintenance”)
atau sosial.
Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan
pendapat. Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok
berjalan lebih lancar.
|
|
|
1.
PLANNING
|
|
2.
ORGANIZING
|
|
4.
ACTUATING
|
|
3.
CONTROLLING
|
Diagram 1.
Siklus proses Manajemen (Ali Imron, 2003: 6)
Perencanaan
(planning) yang dilakukan seorang pemimpin untuk menyeleksi,
menghubungkan fakta-fakta, membuat dan menggunakan asumsi dengan menggambarkan
dan penyusunan kegiatan yang akan dilakukan. Langkah yang diambil dalam
perencanaan antara lain dengan kegiatan (1) perumusan tujuan yang akan dicapai,
(2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, (3) identifikasi dan pengarahan
sumber yang jumlahnya terbatas. Sehingga rencana awal dalam sebuah organisasi
dapat dilihat dari segi perencaan yang disusun dalam organisasi tersebut.
Pengorganisasian
(Organizing), adalah langkah yang dilakukan setelah tujuan dan
rencana-rencana organisasi ditetapkan. Usaha dalam rangka memahami munculnya
kesulitan pokok yaitu keanekaragaman lingkungan yang diikuti dengan kesulitan perencanaan
ukuran pengorganisasian yang
tepat.(Abdul Hamid Musri , 1998 : 77). Dalam pelaksanaan pengorganisasian ini
diperlukan adanya koordinasi yang baik dengan mempersatukan kontribusi berbagai
orang bahkan bahan dan sumber demi tercapainya maksud dan tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam hal ini menunjukkan kerjasama antar personil dalam organisasi
akan mempermudah tercapainya tujuan dan
menimbulkan keserasasian kerja dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang
sudah ditetapkan.
Penggerakan
(Actuating) sebagai bentuk pengarahan kerja yang perlu dilaksanakan
dalam organisasi. Serangkaian peraturan yang berperan mengatur dan mempedomani
proses interaksi sehingga peraturan dan tujuan yang akan dicapai akan berjalan
sesuai dengan rencana dan terkoordinasi dengan baik. Menurut Stoner yang
dikutuip oleh Abdul Kholiq (2011: 30) penggerakan (Actuating) adalah
“proses mengarahkan (directing) dan mempengaruhi (influencing)
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tugas anggota kelompok atau
organisasi secara keseluruhan”. Pengkondisian semacam ini bertujuan mengarahkan
para pekerja agar lebih produktif, saling membantu, memperoleh kepuasaan dengan
jalan mengembangkan hubungan antar sesama, dan memperkokoh eksistensinya. (Abdul
Hamid Musri , 1998 : 135). Sehingga dalam fungsi penggerakan (actuating)
seorang pemimpin dapat mengatasi ketidak cukupan persoanil (overcome
personel in adiaquaries), dengan mempertimbangkan ketidak sesuaian antara
orang dengan kedudukannya dalam organisasi, sehingga perlu pemimpin
mempengaruhi individu-individu melalui organisasi untuk menjawab berbagai macam
perubahan dan tekanan tanpa mengadakan penataan kembali (restructure)(Wahjo
Sumidjo, 1999: 170). Dalam pelaksanaan
ditingkat organisasi yang dapat diambil dari fungsi penggerakan adalah perilaku
yang banyak bekerja daripada berbicara dari pimpinannya , Let’s do more.
Pengawasan
(Controlling), menjelaskan kegiatan yang melihat apakah
kegiatan-kegiatan dilakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dalam
pelaksanaan pengawasan dalam manajemen meliputi : (1) mempertahankan standar
kinerja, (2) mengukur kinerja saat ini, (3) membandingkan kinerja saat ini
dengan standar yang harus dipertahankan, dan (4) melaksanakan tindakan koreksi
bila terdeteksi adanya penyimpangan. (Abdul Kaoliq, 2011: 30). Selanjutnya yang
perlu ditekankan dalam manejemen sebagai pengawasan kinerja adalah apa yang
dilakukan ketika pencapaian tujuan yang telah direncanakan sesuai dengan apa
yang diharapkan. Seandainya belum atau adanya ketidak sesuaian maka perlu
langkah kuratif sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam palaksanaan dan
tujuan.
Dan apa yang dikatakan Tony Bush(2000:28)
dengan menyitir pendapat Hall, V:
“It is not
enough for leaders to have the vision, sell it and then move on, leaving others
to translate it into action.
Implementation of the strategic plan needs continual monitoring and evaluation
by those with the creative ability to understand where diversions may be
appropriate and how obstacles can be surmounted. Strategic plans should be
after all, liberating and not constraining”
Dengan maksud
bahwa tidaklah cukup bagi para
pemimpin untuk memiliki visi,
memaparkannya dan kemudian pindah,
meninggalkan orang lain untuk
menerjemahkannya ke dalam tindakan. Pelaksanaan rencana strategis memerlukan monitoring terus menerus dan evaluasi oleh orang-orang dengan kemampuan kreatif untuk memahami di mana hiburan mungkin cocok dan bagaimana hambatan dapat diatasi. Rencana strategis harus terlaksana setalah
semua membebaskan dan tidak
menghambat. Sehingga pelaksanaan dalam sutau organisasi
melibatkan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya dengan pengawasan yang
sesuai arah tujuan yang telah ditetapkan.
5.
Type dan
Gaya Kepemimpinan
Ada berbagai
tipe kepemimpinan yang secara umum sudah dikenal luas oleh masyarakat antara
lain :
1.
Berdasarkan Orientasi kepemimpinan
2.
Kepemimpinan situasional
3.
Kepemimpinan Visioner
4.
Kepemimpinan Transformasional
5.
Kepemimpinan yang Cerdas. (LPMP Jawa Tengah,
2012: 2)
Para
peneliti telah mengidentifikasikan tiga pola dasar gaya kepemimpinan yaitu :
a.
berorientasi tugas ( task
orientation ),
b.
berorientasi hubungan kerja (relationship
orientation)
c.
berorietasi hasil yang efektif ( effetivess orientation ).
(Kartini Kartono : 34 )
Menurut Tony
Bush (2000) ada dua gaya kepemimpinan yaitu
kepemimpinan transformasional dan transaksional.
Prinsip yang
dipraktekkan dalam kepemimpinan transformasional tidak hanya mengandalkan
karisma pribadinya saja tetapi berusaha untuk menggali potensi staf dalam
perkembangan dan sebagai fungsi kepemimpinan sebuah organisasi yang
menguntungkan. Kepemimpinan transformasional lebih mengedepankan perbaikan
dengan gaya :
Merangsang
minat para rekan kerja dan yang dipimpin untuk melihat pekerjaan mereka dari
perspektif baru.
Membangkitkan
kesadaran visi dan misi organisasi
Mengembangkan
kolegial dan yang dipimpin untuk tingkat kemampuan yang lebih tinggi.
Memotivasi
rekan-rekan dan para pengikut untuk mampu mencapai diatas target mereka
terhadap kelompok.
Atau
dapat dikatakan kepemimpinan transformasional :
1.
Idealised
influence (leaders are
seen as role models for others)
2.
Inspirational
motivation.
3.
Intellectual
stimulation.
4.
Individualized
consideration (including
leaders acting as coach or mentor to indiviuals in the instruction). (Tony, 2000 :
23)
Idealised influence (Pengaruh yang diidealkan) – Pemimpin sebagai model
ideal bagi pengikutnya. Pemimpin dikagumi, dihargai, dan dipercayai. Pengikut
mengidentifikasi diri mereka dengan pemimpin dan ingin menirunya. Pemimpin
dipandang pengikutnya punya kemampuan, daya tahan, dan faktor penentu yang luar
biasa .
Inspirational motivation (memotivasi yang inspiratif) Pemimpin yang mampu memotivasi dan menginspirasi
orang-orang yang ada di sekeliling mereka dengan memberi makna dan tantangan
atas kerja yang dilakukan oleh para pengikutnya. Melalui semangat tim meningkat, antusiasme dan
optimisme ditunjukkan dalam melakukan sesuatu..
Intellectual stimulation ( Stimulasi intelektual) pemimpin yang
merangsang usaha untuk selalu berkreatif dan berinovatif, dengan mempertanyakan
anggapan dasar (asumsi), mempertanyakan pembaharuan dari pendekatan lama.
Individualized consideration ( Pertimbangan Individu) Pemimpin yang memberikan perhatian
khusus terhadap kebutuhan setiap pengikut dalam rangka mencapai prestasi dan
perkembangan yang diharapkan dengan tindakan,sekaligus sebagai pelatih dan
pembimbing. Pengikut dan para kolega akan mampu mencapai potensi
tertinggi mereka. Pertimbangan individual yang memiliki karakteristik yang
berbeda dan kebuthan individu yang berbeda sehingga penempatan kinerja sesuai
dengan kemampuan individu masing-masing.
Dalam
kepemimpinan transformasional berkaitan dengan upaya perubahan yang diharapkan.
Sehingga akan membantu anggota staf untuk berkolaborasi, memotivasi
pengembangan.
Kepemimpinan
transaksional lebih menekankan pada penguatan dan penghargaan. Kepemimpinan
transaksional dibutuhkan pada mereka dengan manajemen rutin. Pemimpin yang memimpin dengan model
transaksi/ pertukaran sosial. Pemimpin bisnis bercorak transaksional menawarkan
reward bagi anggota yang memiliki produktivitas atau tidak memberi reward
karena kurang produktif. Bidang yang
biasa menggunakan gaya kepemimpinan transaksional adalah bidang bisnis dan
industri, pemerintah, lembaga pendidikan militer, dan organisasi non-profit.
Dapat diperhatikan perbedaan yang timbul dengan gaya transformasional dan
transaksional dengan skema kuadran situasional Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard
:
|
Perilaku Pemimpin
|
|
|
||||||||||||
|
|
|
Perilaku Mengatur
|
|
Tinggi
|
|
Kesiapan
Pengikut
|
|
Rendah
|
|
Perilaku Kerja (Task
Behavior)
|
|
Tinggi
|
moderat
|
Rendah
|
|
|
R4
|
R3
|
R2
|
R1
|
|
Mampu dan mau atau
percaya diri
|
Mampu tapi tidak mau,
tidak aman
|
Tidak mampu tapi mau
dan percaya diri
|
Tidak mampu, tidak
mau juga tidak percaya diri
|
|
Pemimpin Mengatur
|
|
Pengikut Mengatur
|
D. Pemimpin memprtimbangkan siuasi sebelum memutuskan dengan
kemampuan pengikut untuk memahami tujuan organsiasi dan mempredeksi kemampuan
mereka dalam pencapaiannya. Kesiapan disini
tergantung kepada pekerjaan yang akan dilakukan oleh pengikutnya, hal
ini dilihat dari seberapa banyak pelatihan
yang pernah mereka terima, seberapa komitmen terhadap organisasi dan
seberapa besar kemampuan teknis dalam menjalankan tugas yang akan diemban.
KESIMPULAN
Pemimpin adalah inti
dari manajemen. Manajemen akan tercapai
tujuannya jika ada pemimpin. Seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai
keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mengendalikan pendirian/pendapat orang
atau sekelompok orang tanpa menayakan alasan – alasannya. seorang pemimpin
adalah seseorang yang aktif membuat rencana – rencana, mengkoordinasi,
melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama –
sama.
Kepemimpinan adalah
kegiatan mempengaruhi perilaku orang – orang lain agar mau bekerja sama untuk
mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang
sangat penting tentang kepemimpinan. Yaitu mempengaruhi perilaku orang lain.
Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang – orang yang
dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh
orang yang memimpin.
Untuk menerapkan
manajemen dalam suatu organisasi diperlukan adanya kepemimpinan yang ciri –
cirinya berbeda denga kepemimpinan yang tidak untuk meraih mutu. Manajemen
diterapkan dalam organisasi yang melihat tugas organisasinya tidak sekedar
melaksanakan tugas rutin, yang sama saja dari hari ke hari berikutnya. Semua
sudah ditentukan standarnya, dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka
bereslah segalanya. Manajemen juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya
standar ini bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan.
BIBLIOGRAFY
Bush
T and Colemen, Marianne, 2000, Leadership and Strategic Management in
Education, London, Paul Chapman Publishing, Ltd.
Choliq,
Abdul MT, 2011, Kunci Sukses Kepemimpinan Pendidikan Melalui Peningkatan
Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : Trust Media.
Daryanto,
2011, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran, Yogyakarta : Gava
Media.
Hamid
Mursi, Abdul, Dr., 1998, SDM Yang
Produktif pendekatan Al Qur’an dn Sains,Jakarta : Gema Insani Press
Handoko T. Hani , 1984, Manajemen Edisi 2, Yogyakarta :BPFE http://artikelrande.blokspot.com/2010/07/manajemen kepemimpinan_6811.html
Imron
Ali, 2003 Manajemen Pendidikan Analisis Substantif dan Aplikasinya dalam
Institusi Pendidikan, Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang
James K. Van Fleet, 1973, Manajemen Kepemimpinan, Jakarta:Mitra
Kartini
Kartono, 2011, Pemimpin dan Kepemimpinan Apakah Kepemimpinan Abnormal
Itu ?, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah, 2012, Kumpulan Materi Diklat
Kepala Sekolah Kabupaten Wonosobo, Semarang.
M.
Ngalim Purwanto, 2012, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung :
PT Remaja Rosdakarya.
Purwanto, yadi, 2001, makalah: manajemen, Jakarta : PT.Cendekia Informatika.
Rohiat,
2010, Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik Dilengkapi dengan Contoh
Rencana Strategis dan Rencana Operasional, Bandung : Refika Aditama
Sunandiah,
dan Widiyani Nini, Kepemimpinan Dalam Masyarakat Modern, Jakarta :
Rineka Cipta.
W. Brown steven, 1998, manajemen kepemimpinan, Jakarta:
Profesional books
Wahjosumidjo,
1999, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahanya,
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Zulkarnain, 2008, Transformasi
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Manajemen Berorientasi Link and Mactch,
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.