PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DALAM
PEMBELAJARAN SISWA
A. Pendahuluan
Pendidikan adalah hak asasi manusia, yang bersifat
demokratis, terbuka , tidak ada diskriminasi dan menjangkau semua warga Negara tanpa
kecuali. Dalam pelaksanaan pendidikan
, siswa yang mengalami
kesulitan belajar , memiliki
kebebasan dalam mengembangkan potensi diri.
Faktor yang
menyebabkan problem belajar bisa terjadi
karena kecerdasan yang dimiliki, kesehatan sering
terganggu, perubahan emosional yang tidak stabil, gangguan
perseptual, gangguan motorik,
penguasaan cara belajar yang baik. Hal ini biasa
datang dari dalam diri siswa.
Problematika yang berasal dari luar diri siswa diantaranya
adalah berasal dari faktor
keluarga dan lingkungan antara
lain adalah kemampuan ekonomi orang tua yang kurang memadai, pengawasan dan
perhatian orang tua yang kurang,
harapan orang tua yang terlalu tinggi, hubungan dalam keluarga yang kurang harmonis. Sedangkan
factor yang berasal dari lingkungan dapat dilihat dari sisi pengaruh social
yang tidak mendukung peningkatan mutu pendidikan, pengaruh teknologi dan
informasi, dan pengaruh pola hidup di masyarakat.
Problematika
anak dalam belajar yang disebabkan kemampuan dasar anak. Pemerintah sudah
menyediakan tempat khusus atau satuan pendidikan luar biasa. Mereka umumnya
dikenal sebagai anak berkesulitan belajar, lamban belajar, anak malas, anak
bodoh, dan lain-lain ada yang
memperkirakan berkisar antara 1 % - 3 % . Di Amerika dan di Eropa Barat, anak berkesulitan belajar
diperkirakan mencapai 15% dari populasi anak sekolah dasar ( Gaddes,1985). Di Indonesia , prevalensi anak dengan
problem belajar diperkirakan lebih besar.[1] Penyabab hal tersebut adalah kurang gizi
pada ibu Hamil, bayi dan anak, diare, penyait persalinan, serta infeksi susunan
saraf pusat pada bayi.
Kurangnya
pelayanan pendidikan yang optimum pada anak-anak yang mengalami problematika
belajar akan berdampak pada tingginya angka pengulangan kelas dan rendahnya
angka kelulusannya.pada tahun 1998 angka kelulusan SD hanya mncapai 70 % yang
artinya ada 30 % anak Indonesia tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar.[2]
Sekolah sebagai suatu sistem dengan tujuan pencapaian pendidikan
dapat bersinergi terhadap pemecahan permasalah yang timbul dalam problematika
pembelajaran. Dengan memperhatikan bagian-bagian yang terkait dengan sistem dan interaksi satu sama
lainnya. Manajemen pendidikan dengan memperhatikan komponen input dan proses
pendidikan. Proses inilah yang yang menyebabkan perubahan yang lebih baik.
Temuan dilapangan tentang siswa yang
mengalami problematika pembelajaran disekolah umum diperlukan penanganan secara
prefentif maupun kuratif. Tindakan
yang diambil sebagai konsekwensi penyelenggaraan pendidikan yang bersifat
transparan bagi semua warga Negara.
Penanan Bimbingan dan konseling di sekolah diperlukan dalam rangka antisipasi
permasalahan pendidikan yang
berkaitan dengan permasalahan dalam belajar dapat
diminimalkan dengan penanganan khusus dari bimbingan guru.
Sumbangan
yang diberikan dalam bimbingan dan penyuluhan bagi anak didik dapat mengacu
pada teori psikoanalitik yang mencakup : (1) Kehidupan mental individu menjadi
bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada
perbedaan penderitaan manusia; (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan
oleh faktor-faktor tak sadar;
(3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat
terhadap kepribadian di masa dewasa; (4) Cara-cara yang digunakan oleh individu
dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang
bekerja untuk menghindari luapan kecemasan; (5) cara-cara mencari keterangan
dari ketidaksadaran melalui
analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.[3] Acuan teori psikonalitik yang dicetuskan
Sigmud Freud, memberikan pandangan terhadap permasalahan
problematika belajar pada anak
dilihat dari sisi kepribadian, sifat manusia dan metode psikoterapi.
Aspek
yang perlu diperhatikan dalam memberikan solusi pada anak yang mengalami
problema pembelajaran adalah melihat
identifikasi di bidang kognitif ,
perseptif, aspek social dan kesehatan,
mengacu pada identifikasi anak yang mengalami problem belajar dengan melihat :
-
Informasi riwayat perkembangan
anak
-
Informasi / data rang tua
anak / wali siswa
-
Informasi profil (gambaran
secara umum) anak berproblema belajar
Dari identifikasi
problematika anak perlu diteruskan dengan tindak lanjut perbaikan dan pelayanan
bagi siswa dengan problematika pembelajaran. Konsep guru dalam pembelajaran dari teaching ke learning dapat
membantu siswa yang mengalami problematika pembelajaran.
Memahami konsep manusia tidak ada yang
sempurna, memberikan pandangan luas dalam memahami kondisi setiap manusia.[4]
Dengan kata kunci untuk memahami konsep
diri manusia tidak dapat mengabaikan relasi antar manusia. Bahwa manusia itu ada-dengan-partisipasi
(being-by-participation), yaitu manusia masuk ke dalam ‘ada’
individualnya dengan persekutuannya dengan manusia-manusia lainnya melalui
cinta, harapan, dan kepercayaan.[5]
Dengan
memperhatikan problematika anak dalam proses belajar maka peranan Bimbingan dan
konseling bagi siswa adalah memberikan
bantuan solusi bagi problematika pembelajaran. Sebagai pencerahan bagi siswa yang
mengalami permaslahan pebelajaran sehingga mampu mengaktualisasi kecerdasan
yang dimiliki yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis,
kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musical,
kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.
Dengan demikian seharusnya sekolah mampu
menyesuaikan kondisi objektif anak, tidak hanya menggunakan pendekatan logika,
tetapi juga pendekatan psikologis dan religius. Guru tidak hanya sekedar
mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi mampu menciptakan suasana belajar yang
kondusif yang mendorong siswa mampu mengembangkan kepribadiannya dalam iklim
sekolah yang sarat dengan aktifitas yang menyenangkan.
B.
Permasalahan
Melihat kondisi
riil dilapangan pada dekade terakhir
data problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia sudah sangat memerlukan
bimbingan secara intensif bagi siswa yang mengalami permasalahan
pembelajaran.Permasalahan Interpersonal dari siswa yang merupakan aspek intern
pribadi, dan terkait dengan aspek eksternal yang berkaitan dengan keluarga dan masyarakat, maka
dimanakah letak dan fungsi bimbingan. Dengan melihat latar belakang tersebut maka bisa dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.
Bagaimana peranan Bimbingan
dan konseling di sekolah?
2.
Tindakan apa sajakah yang diperlukan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang mengalami kesulitan
belajar ?
3.
Bagaimana pendekatan Islami
yang digunakan untuk memberikan solusi bimbingan kepada siswa yang mengalami
kesulitan belajar?
C. Pembahasan Masalah
Menyadari
manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan
yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
Semakin kuat kesadaran diri pada manusia maka semakin besar kebebasan yang ada
diri seseorang dalam memilih alternatif bertindak dan bertanggung jawab. Permasalahan akan muncul apabila
seorang tak mampu untuk mengambil keputusan dalam hal tertentu yang memerlukan
sumbang saran dan bimbingan dari fihak lain.
1.
Mengenal Bimbingan dan Konseling
Pengertian
Bimbingan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah petunjuk (penjelasan)
cara mengerjakan sesuatu; tuntunan; pimpinan.[6]
Sedangkan Konseling dalam
kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemberian bimbingan kepada yang ahli kepada
seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan pengarahan, Konseling dapat diartikan juga sebagai
pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga
pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memcahkan berbagai
masalah; penyuluhan.[7] Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan
secara sadar kepada siswa yang membutuhkan bantuan penyelesaian problematika
pembelajaran.
Sementara ini sebagian besar
pendapat fungsi Bimbingan hanya untuk
menangani anak yang melakukan pelanggaran saja. Sebagai contoh anak yang tidak
mau mengerjakan PR maka guru menyuruh anak lapor ke BP untuk mendapatkan point
negatif. Anak yang tidak
menggunakan seragam sekolah dengan benar lapor BP untuk dibina dan mendapat
point, anak yang terlambat lapor BP untuk mendapatkan ijin masuk kelas. Hal-hal
semacam itulah yang sering
muncul dalam benak kita sebagai pendidik atau benak siswa yang lain. Tanggapan
bimbingan belum pada taraf penyelesaian sesuatu yang tepat pada seorang
pelajar.
Tujuan diadakan bimbingan di dalam sekolah antara lain
:
a.
Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh
prestasi belajar yang tinggi.
b. Mengatasi terjadinya
kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar
mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
c. Mengatasi
kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kesehatan jasmani.
d. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan
kelanjutan studi.
e. Mengatasi
kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial dan
emosional di sekolah
yang bersumber dari sikap siswa yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, dan lingkungan
yang lebih luas.
Apabila
fungsi bimbingan yang dilaksanakan di sekolah
berjalan dengan baik maka penyelewengan
perilaku siswa dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan
pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang
berbudi pekerti yang luhur akan mudah tercapai.
Bimbingan yang diberikan secara Islami memberikan penghargaan harkat dan
martabat manusia memiliki fitrah yang suci , sedangkan nafsu selalu berusaha
untuk menggoda atau menyelewengkan manusia dari kesucian dan kebenaran. Konsep
diri terbagi atas konsep diri yang negatif dan konsep diri positif. Karakteristik mengenai konsep diri yang negatif secara umum tercermin dari keadaan diri sebagai berikut :
a.
Individu sangat peka dan
mempunyai kecenderungan sulit menerima kritik dari orang lain. Kritik dipandang
sebagai pengabsahan lebih lanjut kepada inferioritas mereka.
b.
Individu yang mengalami
kesulitan dalam berbicara dengan orang lain. Sikap yang hiperkritis
dipergunakan untuk mempertahankan citra diri yang goyah, dan mengarahkan
kembali perhatian kepada kekurangan dari orang lain daripada kekurangan dirinya
sendiri.
c.
Individu yang sulit
mengakui bahwa ia salah. Terdapat kompleks penyiksaan di mana kegagalan
ditempatkan pada rencana tersembunyi dari orang lain dan kesalahan ditujukan
kepada orang lain. Dengan kata lain, kelemahan pribadi dan kegagalan diri tidak
mau diakui sebagai bagian dari dirinya sendiri.
d.
Individu yang kurang mampu
mengungkapkan perasaan dengan wajar , sering terdapat respon yang berlebihan
terhadap sanjungan.
e.
Individu dengan konsep diri
negative berkecenderungan untuk menunjukkan sikap mengasingkan diri , malu-malu
dan tidak ada minat pada persaingan. Sikap menarik diri dan menolak untuk
berpartisipasi merupakan suatu upaya untuk mencegah inferioritas terpublikasikan
secara terbuka sehingga mengkonfirmasikan apa yang diyakini oleh orang lain
mengenai dirinya.[8]
Permasalahan dalam konsep pribadi yang
negatif akan berdampak dalam
proses pembelajaran bagi peserta didik. Sehingga perlu bimbingan arahan jangan
samapai konsep pribadi yang negatif
tersebut meluas sehingga memunculakan
pribadi yang negatif pula. Hal ini perlu dilakukan bimbingan individual dalam membantu menemukan
konsep dirinya yang baik dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Memberikan berbagai jawaban
yang terpisah dari pertanyaan “siapakah saya ini?”
b.
Menfokuskan kejadian apa
yang baru saja dialami dengan meraskan pengalaman yang sensasi dan emosi yang
terjadi.
c.
Membuat sketsa singkat
tentang diri dan ideal diri, lakukan penyelarasan.
d.
Mengadakan relaksasi dengan
menfokuskan anggota tubuh secara bergantian
Usaha yang ditempuh tersebut merupakan
langkah penstabilan konsep diri agar tidak
memunculkan konsep diri yang negative.
Konsep diri tersebut dapat dikaitkan dengan proses
belajar sebagai penambahan pengetahuan, dan proses perubahan tingkah laku yang
meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan
perubahan kemampuan yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis
performance (kinerja).[9]
Kesulitan yang timbul dari siswa dalam pembelajaran akan terminimalisir bila
setiap anak memiliki konsep diri yang positif.
2.
Peranan Bimbingan dan Konseling Dalam Pembelajaran Siswa
Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua
siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan
tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud, karena banyak siswa tidak
seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam
kesulitan dalam belajar. Indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar
dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi
(1977) sebagai berikut :[10]
a) Hasil belajarnya rendah, dibawah
rata-rata kelas
b) Hasil yang dicapai tidak seimbang
dengan usaha yang dilakukannya.
c) Menunjukkan sikap yang kurang wajar,
suka menentang, dusta, tidak mau
menyelesaikan tugas-tugas dan
sebagainya.
d) Menunjukkan tingkah laku yang
berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.
Dalam
kondisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka bimbingan dan konseling dapat
memberikan layanan dalam (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, (3)
bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.[11]
3.
Konseling Islami Sebagai
Solusi
Bimbingan Konseling Islami yang diberikan harus mengacu pada fungsi pendidikan islam itu sendiri, yaitu :
a.
Mengembangkan wawasan yang
tepat dan benar mengenai jati diri manusia, lam sekitarnya dan mengenai
kebesaran Ilahi, sehingga tumbuh kreativitas yang benar.
b.
Mensucikan diri
manusia dari syirik dan berbagi sikap hidup dan perilaku yang dapat mencemari
fitrah kemanusiaanya; dengan menginternalisasi nilai-nilai insani dan Ilahi
pada subjek didik; dan
c.
Mengembangkan ilmu
pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individual maupun sosial.[12]
Konsep Islam tersebut akan memberikan
kontribusi positif pada setiap anak yang mengalami gangguan belajar, baik yang disebabkan dari faktor internal maupun eksternal.
Peranan
bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami mempunyai misi
yang sama dlam proses pencapaian pembelajaran. Tetapi ada perbedaan yang cukup
signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi. Bimbingan Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas
fitrah dan kuasa Allah. Tinggal
manusia mampu menyesuaikan dengan peraturan Allah atau membangkangnya.Dalam
segi agama hal-hal penyimpangan tingkah laku, akidah sudah disebutkan dan
diberikan contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
Dengan kekuatan iman dan ikhsan
manusia tidak akan terjerumus
ke dalam kesesatan. Fungsi Islam disini sebagai acuan norma dan aturan yang
waib diikuti oleh pemeluknya. Oleh karena itu islam yang mengangkat manusia
adalah makhluk dengan kridibiltas suci diawal keberadaan di dunia, dapat
terkontaminasi peradaban dan budaya yang tidak sesuai dengan kodratnya apabila
tidak mampu menjaga dan memelihara kesucian tersebut.
{فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ
سَاجِدِينَ (29)} [الحجر: 29]
29. Maka
apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
( yang dimaksud dengan sujud di sini bukan
menyembah, tetapi sebagai penghormatan.)
Hadits Nabi :
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ..(مسند أحمد ، بترقيم الشاملة آليا)
Artinya : dari abu hurairah
sesungguhnya Rasulullah bersabda : “ setiap kelahiran (anak yang lahir) berada
dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang mempengaruhi anak itu
menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R.Ahmad)
Maka manusia yang mampu bersyukur atas
nikmat Allah SWT dalam arti menggunakan dengan cara yang sebaik-baiknya , perlu
bantuan dari luar dirinya yaitu pengaruh lingkungan yang positif konstruktif dan mendidik. Dengan kata lain bimbingan terhadap anak secara islami dengan memberikan bantuan yang terarah, kontinyu
dan sistematis kepada setiap individu
agar ia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara
optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai
yang terkandung di dalam Al Qur’an dan Hadits.[13]
.
D.
Kesimpulan
Peranan
bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami mempunyai
misi yang sama dalam proses
pencapaian pembelajaran. Tetapi ada perbedaan yang cukup
signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi. Bimbingan
Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas fitrah dan kuasa Allah. Tinggal manusia mampu menyesuaikan dengan
peraturan Allah atau membangkangnya. Dalam segi agama hal-hal penyimpangan
tingkah laku, akidah sudah disebutkan dan diberikan
contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
Apabila fungsi bimbingan yang
dilaksanakan di sekolah berjalan dengan
baik maka penyelewengan perilaku siswa
dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan pendidikan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang berbudi pekerti yang
luhur akan mudah tercapai.
Daftar Pustaka
Ahmadi,
abu. 1977. Bimbingan dan
Penyuluhan di sekolah. Semarang: Toha Putra.
Achmadi.1992. Islam
sebagai paradigm Ilmu pendidikan,Semarang : Aditya Media
Achsan Husairi, 2008 .Manajemen Pelayanan Bimbingan & Konseling di Sekolah,
Depok, Arya Duta
Corey ,Gerald.
2010 .Teori dan Praktek
Konseling dan Psikoterapi,
Bandung : PT Refika Aditama
Hutagalung, Inge, M.Si. Dra.Hj. 2007.Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis
Menuju Pribadi Positif, Jakarta : Pt Indeks
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.2007.Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Sulhan,Najib, M.A. Drs. 2010. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran Guru Menuju
sekolah efektif, Surabaya : Surabaya Inteletual Club
Tohirin,
2009, Bimbingan
Dan Konseling Di Sekolah dan Madrasah Jakarta, Rajawali
Yusuf, Munawir. 2003. Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar , Solo : Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri
[1]
Munawir Yusuf, Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar (Solo : Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), hlm . 4
[2]Ibid,
hlm. 5
[3]
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, ( Bandung :
PT Refika Aditama, 2010), hlm. 14
[4]
Drs. Najib Sulhan, M.A. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran
Guru Menuju sekolah efektif, (Surabaya : Surabaya Inteletual Club, 2010),
hlm.11
[5]Dra.
Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju
Pribadi Positif, (Jakarta : Pt Indeks, 2007), hlm. 23
[6]
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2007), hlm. 152
[7]Ibid,
hlm. 588
[8]Dra.
Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan …, hlm. 23
[12]
Achmadi, Islam sebagai paradigm Ilmu pendidikan, (Semarang : Aditya
Media, 1992), hlm. 25
[13]Dra.Hallen
A., M.Pd. BimbingandanKonseling, (Jakarta : PT Ciputat Press, 2005),
hlm. 16