Laman

Minggu, 16 Maret 2014

 PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
 DALAM PEMBELAJARAN SISWA


A.    Pendahuluan


Pendidikan adalah hak asasi manusia, yang bersifat demokratis, terbuka , tidak ada diskriminasi dan menjangkau semua warga Negara tanpa kecuali. Dalam pelaksanaan pendidikan , siswa yang mengalami kesulitan belajar , memiliki kebebasan dalam mengembangkan potensi diri.
                        Faktor yang menyebabkan problem belajar bisa terjadi karena kecerdasan yang dimiliki, kesehatan sering terganggu, perubahan emosional yang tidak stabil, gangguan perseptual, gangguan motorik, penguasaan cara belajar yang baik. Hal ini biasa datang dari dalam diri siswa.
Problematika yang berasal dari luar diri siswa diantaranya adalah berasal dari faktor keluarga dan lingkungan antara lain adalah kemampuan ekonomi orang tua yang kurang memadai, pengawasan dan perhatian orang tua yang kurang, harapan orang tua yang terlalu tinggi, hubungan dalam keluarga yang kurang harmonis. Sedangkan factor yang berasal dari lingkungan dapat dilihat dari sisi pengaruh social yang tidak mendukung peningkatan mutu pendidikan, pengaruh teknologi dan informasi, dan pengaruh pola hidup di masyarakat.
                        Problematika anak dalam belajar yang disebabkan kemampuan dasar anak. Pemerintah sudah menyediakan tempat khusus atau satuan pendidikan luar biasa. Mereka umumnya dikenal sebagai anak berkesulitan belajar, lamban belajar, anak malas, anak bodoh, dan lain-lain ada yang memperkirakan berkisar antara 1 % - 3 % . Di Amerika dan di Eropa Barat, anak berkesulitan belajar diperkirakan mencapai 15% dari populasi anak sekolah dasar ( Gaddes,1985). Di Indonesia , prevalensi anak dengan problem belajar diperkirakan lebih besar.[1] Penyabab hal tersebut adalah kurang gizi pada ibu Hamil, bayi dan anak, diare, penyait persalinan, serta infeksi susunan saraf pusat pada bayi.
                        Kurangnya pelayanan pendidikan yang optimum pada anak-anak yang mengalami problematika belajar akan berdampak pada tingginya angka pengulangan kelas dan rendahnya angka kelulusannya.pada tahun 1998 angka kelulusan SD hanya mncapai 70 % yang artinya ada 30 % anak Indonesia tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar.[2]
                        Sekolah sebagai suatu sistem dengan tujuan pencapaian pendidikan dapat bersinergi terhadap pemecahan permasalah yang timbul dalam problematika pembelajaran. Dengan memperhatikan bagian-bagian yang terkait dengan sistem dan interaksi satu sama lainnya. Manajemen pendidikan dengan memperhatikan komponen input dan proses pendidikan. Proses inilah yang yang menyebabkan perubahan yang lebih baik.
                        Temuan dilapangan tentang siswa yang mengalami problematika pembelajaran disekolah umum diperlukan penanganan secara prefentif maupun kuratif. Tindakan yang diambil sebagai konsekwensi penyelenggaraan pendidikan yang bersifat transparan  bagi semua warga Negara. Penanan Bimbingan dan konseling di sekolah diperlukan dalam rangka antisipasi permasalahan pendidikan yang berkaitan dengan permasalahan dalam belajar dapat diminimalkan dengan penanganan khusus dari bimbingan guru.
                        Sumbangan yang diberikan dalam bimbingan dan penyuluhan bagi anak didik dapat mengacu pada teori psikoanalitik yang mencakup : (1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia; (2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar; (3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa; (4) Cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan; (5) cara-cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.[3] Acuan teori psikonalitik yang dicetuskan Sigmud Freud, memberikan pandangan terhadap permasalahan problematika belajar pada anak dilihat dari sisi kepribadian, sifat manusia dan metode psikoterapi.
                        Aspek yang perlu diperhatikan dalam memberikan solusi pada anak yang mengalami problema pembelajaran adalah melihat identifikasi di bidang kognitif , perseptif,  aspek social dan kesehatan, mengacu pada identifikasi anak yang mengalami problem belajar dengan melihat :
-          Informasi riwayat perkembangan anak
-          Informasi / data rang tua anak / wali siswa
-          Informasi profil (gambaran secara umum) anak berproblema belajar
            Dari identifikasi problematika anak perlu diteruskan dengan tindak lanjut perbaikan dan pelayanan bagi siswa dengan problematika pembelajaran. Konsep guru dalam pembelajaran dari teaching ke learning dapat membantu siswa yang mengalami problematika pembelajaran.
                        Memahami konsep manusia tidak ada yang sempurna, memberikan pandangan luas dalam memahami kondisi setiap manusia.[4] Dengan kata kunci  untuk memahami konsep diri manusia tidak dapat mengabaikan relasi antar manusia. Bahwa manusia itu ada-dengan-partisipasi (being-by-participation), yaitu manusia masuk ke dalam ‘ada’ individualnya dengan persekutuannya dengan manusia-manusia lainnya melalui cinta, harapan, dan kepercayaan.[5]
                        Dengan memperhatikan problematika anak dalam proses belajar maka peranan Bimbingan dan konseling bagi siswa adalah memberikan bantuan solusi bagi problematika pembelajaran. Sebagai pencerahan bagi siswa yang mengalami permaslahan pebelajaran sehingga mampu mengaktualisasi kecerdasan yang dimiliki yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.
                        Dengan demikian seharusnya sekolah mampu menyesuaikan kondisi objektif anak, tidak hanya menggunakan pendekatan logika, tetapi juga pendekatan psikologis dan religius. Guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif yang mendorong siswa mampu mengembangkan kepribadiannya dalam iklim sekolah yang sarat dengan aktifitas yang menyenangkan.




B.     Permasalahan
Melihat kondisi riil dilapangan pada dekade terakhir data problematika pendidikan yang terjadi di Indonesia sudah sangat memerlukan bimbingan secara intensif bagi siswa yang mengalami permasalahan pembelajaran.Permasalahan Interpersonal dari siswa yang merupakan aspek intern pribadi, dan terkait dengan aspek eksternal yang berkaitan dengan keluarga dan masyarakat, maka dimanakah letak dan fungsi bimbingan. Dengan melihat latar belakang tersebut maka bisa dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana peranan Bimbingan dan konseling  di sekolah?
2.      Tindakan apa sajakah yang diperlukan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar ?
3.      Bagaimana pendekatan Islami yang digunakan untuk memberikan solusi bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar?


C.    Pembahasan Masalah


                        Menyadari manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri pada manusia maka semakin besar kebebasan yang ada diri seseorang dalam memilih alternatif bertindak dan bertanggung jawab. Permasalahan akan muncul apabila seorang tak mampu untuk mengambil keputusan dalam hal tertentu yang memerlukan sumbang saran dan bimbingan dari fihak lain.



1.      Mengenal Bimbingan dan Konseling
                        Pengertian Bimbingan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu; tuntunan; pimpinan.[6] Sedangkan Konseling dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemberian bimbingan kepada yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan pengarahan, Konseling dapat diartikan juga sebagai pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memcahkan berbagai masalah; penyuluhan.[7] Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan secara sadar kepada siswa yang membutuhkan bantuan penyelesaian problematika pembelajaran.
            Sementara ini sebagian besar pendapat  fungsi Bimbingan hanya untuk menangani anak yang melakukan pelanggaran saja. Sebagai contoh anak yang tidak mau mengerjakan PR maka guru menyuruh anak lapor ke BP untuk mendapatkan point negatif. Anak yang tidak menggunakan seragam sekolah dengan benar lapor BP untuk dibina dan mendapat point, anak yang terlambat lapor BP untuk mendapatkan ijin masuk kelas. Hal-hal semacam itulah yang sering muncul dalam benak kita sebagai pendidik atau benak siswa yang lain. Tanggapan bimbingan belum pada taraf penyelesaian sesuatu yang tepat pada seorang pelajar.
Tujuan diadakan bimbingan di dalam sekolah antara lain :
a.       Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
b.      Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
c.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kesehatan jasmani.
d.      Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi.
e.       Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan   masalah  sosial  dan  
emosional di sekolah yang bersumber dari sikap siswa yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, dan lingkungan yang lebih luas.
                        Apabila fungsi bimbingan yang dilaksanakan di sekolah  berjalan dengan baik maka  penyelewengan perilaku siswa dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang berbudi pekerti yang luhur akan mudah tercapai.
Bimbingan yang diberikan secara Islami memberikan penghargaan harkat dan martabat manusia memiliki fitrah yang suci , sedangkan nafsu selalu berusaha untuk menggoda atau menyelewengkan manusia dari kesucian dan kebenaran. Konsep diri terbagi atas konsep diri yang negatif dan konsep diri positif. Karakteristik mengenai konsep diri yang negatif secara umum tercermin dari keadaan diri sebagai berikut :
a.       Individu sangat peka dan mempunyai kecenderungan sulit menerima kritik dari orang lain. Kritik dipandang sebagai pengabsahan lebih lanjut kepada inferioritas mereka.
b.      Individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara dengan orang lain. Sikap yang hiperkritis dipergunakan untuk mempertahankan citra diri yang goyah, dan mengarahkan kembali perhatian kepada kekurangan dari orang lain daripada kekurangan dirinya sendiri.
c.       Individu yang sulit mengakui bahwa ia salah. Terdapat kompleks penyiksaan di mana kegagalan ditempatkan pada rencana tersembunyi dari orang lain dan kesalahan ditujukan kepada orang lain. Dengan kata lain, kelemahan pribadi dan kegagalan diri tidak mau diakui sebagai bagian dari dirinya sendiri.
d.      Individu yang kurang mampu mengungkapkan perasaan dengan wajar , sering terdapat respon yang berlebihan terhadap sanjungan.
e.       Individu dengan konsep diri negative berkecenderungan untuk menunjukkan sikap mengasingkan diri , malu-malu dan tidak ada minat pada persaingan. Sikap menarik diri dan menolak untuk berpartisipasi merupakan suatu upaya untuk mencegah inferioritas terpublikasikan secara terbuka sehingga mengkonfirmasikan apa yang diyakini oleh orang lain mengenai dirinya.[8]
                        Permasalahan dalam konsep pribadi yang negatif akan berdampak dalam proses pembelajaran bagi peserta didik. Sehingga perlu bimbingan arahan jangan samapai konsep pribadi yang negatif tersebut meluas sehingga memunculakan pribadi yang negatif pula. Hal ini perlu dilakukan  bimbingan individual dalam membantu menemukan konsep dirinya yang baik dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Memberikan berbagai jawaban yang terpisah dari pertanyaan “siapakah saya ini?”
b.      Menfokuskan kejadian apa yang baru saja dialami dengan meraskan pengalaman yang sensasi dan emosi yang terjadi.
c.       Membuat sketsa singkat tentang diri dan ideal diri, lakukan penyelarasan.
d.      Mengadakan relaksasi dengan menfokuskan anggota tubuh secara bergantian
Usaha yang ditempuh tersebut merupakan langkah penstabilan konsep diri agar tidak memunculkan konsep diri yang negative.
Konsep diri tersebut dapat dikaitkan dengan proses belajar sebagai penambahan pengetahuan, dan proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuan yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja).[9] Kesulitan yang timbul dari siswa dalam pembelajaran akan terminimalisir bila setiap anak memiliki konsep diri yang positif.

2.      Peranan Bimbingan dan Konseling Dalam Pembelajaran Siswa

            Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Indikasi bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut :[10]
a)      Hasil belajarnya rendah, dibawah rata-rata kelas
b)      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya.
c)      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta, tidak mau
       menyelesaikan tugas-tugas dan sebagainya.
d)     Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.
            Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.[11]



3.      Konseling Islami Sebagai Solusi
                        Bimbingan Konseling Islami yang diberikan harus mengacu pada fungsi pendidikan islam itu sendiri, yaitu :
a.       Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, lam sekitarnya dan mengenai kebesaran Ilahi, sehingga tumbuh kreativitas yang benar.
b.       Mensucikan diri manusia dari syirik dan berbagi sikap hidup dan perilaku yang dapat mencemari fitrah kemanusiaanya; dengan menginternalisasi nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik; dan
c.       Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individual maupun sosial.[12]
                        Konsep Islam tersebut akan memberikan kontribusi positif pada setiap anak yang mengalami gangguan belajar, baik yang disebabkan dari faktor internal maupun eksternal.
                                    Peranan bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami mempunyai misi yang sama dlam proses pencapaian pembelajaran. Tetapi ada perbedaan yang cukup signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi. Bimbingan Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas fitrah dan kuasa Allah. Tinggal manusia mampu menyesuaikan dengan peraturan Allah atau membangkangnya.Dalam segi agama hal-hal penyimpangan tingkah laku, akidah sudah disebutkan dan diberikan contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
                        Dengan kekuatan iman dan ikhsan manusia tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan. Fungsi Islam disini sebagai acuan norma dan aturan yang waib diikuti oleh pemeluknya. Oleh karena itu islam yang mengangkat manusia adalah makhluk dengan kridibiltas suci diawal keberadaan di dunia, dapat terkontaminasi peradaban dan budaya yang tidak sesuai dengan kodratnya apabila tidak mampu menjaga dan memelihara kesucian tersebut.
{فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29)} [الحجر: 29]

29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

( yang dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.)
Hadits Nabi :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ..(مسند أحمد ، بترقيم الشاملة آليا)
Artinya : dari abu hurairah sesungguhnya Rasulullah bersabda : “ setiap kelahiran (anak yang lahir) berada dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang mempengaruhi anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R.Ahmad)

                                                                                                                                                         
                 Maka manusia yang mampu bersyukur  atas nikmat Allah SWT dalam arti menggunakan dengan cara yang sebaik-baiknya , perlu bantuan dari luar dirinya yaitu pengaruh  lingkungan yang positif  konstruktif  dan   mendidik.    Dengan  kata     lain bimbingan  terhadap anak secara islami dengan memberikan  bantuan   yang   terarah, kontinyu   dan  sistematis  kepada  setiap  individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau  fitrah beragama yang dimilikinya  secara optimal dengan cara menginternalisasikan   nilai-nilai yang terkandung di dalam Al Qur’an dan Hadits.[13]
.

D.    Kesimpulan
                        Peranan bimbingan yang di sampaikan dari sisi bimbingan umum dan islami            mempunyai misi yang sama dalam proses pencapaian pembelajaran. Tetapi ada          perbedaan yang cukup signifikan dari dasar pelaksanaan dan tinjauan filosofi.       Bimbingan Islami memberikan hal-hal yang terjadi didasarkan atas fitrah dan kuasa   Allah. Tinggal manusia mampu menyesuaikan dengan peraturan Allah atau             membangkangnya. Dalam segi agama hal-hal penyimpangan tingkah laku, akidah         sudah disebutkan dan diberikan contoh secara jelas dari Nabi-nabi Allah terdahulu.
                        Apabila fungsi bimbingan yang dilaksanakan di sekolah  berjalan dengan baik maka  penyelewengan perilaku siswa dalam beajar dapat diminimalkan. Alasan utama adalah tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi yang berbudi pekerti yang luhur akan mudah tercapai.

           











Daftar Pustaka



Ahmadi, abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semarang: Toha Putra.
Achmadi.1992. Islam sebagai paradigm Ilmu pendidikan,Semarang : Aditya Media
Achsan Husairi, 2008 .Manajemen Pelayanan Bimbingan & Konseling di Sekolah, Depok, Arya Duta
Corey ,Gerald.  2010 .Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi,  Bandung : PT Refika Aditama
Hutagalung, Inge, M.Si. Dra.Hj. 2007.Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif, Jakarta : Pt Indeks
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.2007.Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Jakarta : Balai Pustaka
Sulhan,Najib, M.A. Drs. 2010. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran Guru Menuju sekolah efektif, Surabaya : Surabaya Inteletual Club
Tohirin, 2009, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah dan Madrasah Jakarta, Rajawali
Yusuf, Munawir. 2003. Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar , Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri



[1] Munawir Yusuf, Pendidikan bagi Anakdengan Problema belajar (Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), hlm . 4
[2]Ibid, hlm. 5
[3] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, ( Bandung : PT Refika Aditama, 2010), hlm. 14
[4] Drs. Najib Sulhan, M.A. Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembeajaran Guru Menuju sekolah efektif, (Surabaya : Surabaya Inteletual Club, 2010), hlm.11
[5]Dra. Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif, (Jakarta : Pt Indeks, 2007), hlm. 23
[6] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  (Jakarta : Balai Pustaka, 2007),  hlm. 152
[7]Ibid, hlm. 588
[8]Dra. Hj. Inge Hutagalung, M.Si. Pengembangan Kepribadian Tinjauan …, hlm. 23
[9][9]  Najib Sulhan, M.A. Pembangunan Karakter Pada Anak …hlm.5
[10]  AbuAhmadi  ,  Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. (Semarang: toha putra,1977), hlm.23
                [11]  Ibid, hal .24
[12] Achmadi, Islam sebagai paradigm Ilmu pendidikan, (Semarang : Aditya Media, 1992), hlm. 25
[13]Dra.Hallen A., M.Pd. BimbingandanKonseling, (Jakarta : PT Ciputat Press, 2005), hlm. 16

Senin, 10 Maret 2014

Gunung slamet jawa tengah pada tanggal 11 Maret 2014 mengalami erupsi kecil, abu sampai batur Raden warga sekitar diharap waspada.

Khulafaur Rasyidin

MENELADANI SIKAP TERPUJI KHULAFAURRASYIDIN


A.    Deskripsi
            Dalam modul ini kita akan mempelajari tentang Khulafaur Rasyidin yang memiliki sifat akhlaqul karimah dan kita dapat meneladaninya. Keteladanan tersebut memiliki arti sangat baik bagi pembentukan akhlaqkul karimah kita sebagai pengikut ajaran Islam.
Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad SAW setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam.
Perkembangan Islam yang menuntut adanya penerus generasi Islam yang handal dalam keimanan dan ketaqwaan adalah modal yang dangat penting bagi kelangsungan amaliyah islamiyah pada diri seseorang. Para khalifah pengganti Rasul ini salah satunya yang memiliki keimanan yang kuat menjadikan dirinya tauladan  umat pada masa khalifah saat memimpin,  maupun sebagai tadabur bagi generasi setelahnya. Akhlaq  yang dimiliki  dijadikan panutan dan contoh kehidupan beliau bagi masyarakat umum yang pada gilirannya memberikan pola kehidupan yang tertata rapi berlandaskan nilai-nilai agama yang baik.
Pada pembahasan modul pembelajaran ini akan dikerucutkan bahasan tentang kepribadian para pemimpin umat sebagai pemimpin negara dan pemimpin agama yang mengemban nilai-nilai agama Islam yang dapat diterapkan bagi masyarakat seluruh dunia. Dari khalifah Abu Bakar As Sidiq , Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi.

A.    Khulafaur – Rasydin Sebagai Pemimpin Umat .
            Khulafaur Rasyidin sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW adalah menyampaikan ajaran Islam yang telah dicontohkan Nabi. Dakwah yang dilakukan oleh masing-masing khalifah memiliki ciri dan prioritas masing-masing periode kekhalifahan. Tetapi sebelum kita membahas lebih jauh penyampaian ajaran Islam kepada umat dalam kebijakan khalifah maka akan  disampaikan terlebih dahulu siapa sajakah yang maksud dengan Khulafaur Rasyidin tersebut.
            Khulafaur Rasyidin adalah empat orang khalifah pertama dalam Islam sebagai pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1.      Abu Bakar As Sidiq ((ابو بكر الصديق (573 - 634 M, menjadi khalifah 632 - 634 M)
2.      Umar bin Khattab ( ( عمر بن الخطب (586-590 - 644 M, menjadi khalifah 634 - 644 M)
3.      Utsman bin Affan (عثمان بن عفان (/ 12 Dzulhijjah 35 H; umur 81–82 tahun) (menjadi khalifah 644-655 M)
4.      ‘Alī bin Abī Thālib (علي بن أﺑﻲ طالب ) (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 – wafat 21 Ramadhan 40 Hijriah/661),
Abu Bakar ash-Shiddiq (Abu bakar ibnu Utsman) Ayahnya yang dikenal dengan panggilan Abu Kuhafah. lahir pada tahun 573 M, Abu Bakar adalah sebutan yang bermakna “bapaknya si Upik” aslinya adalah “ Abdullah bin Utsman ". Ia mendapat gelar "as-Shiddiq yang berarti terpercaya ,setelah membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Nama sebelum muslim adalah "Abdul Ka'bah". Ibunya bernama "Salma Ummul Khair “.
Abu bakar adalah pembesar Suku Quraisy menjadi anggota Darun Nadwa (majelis musyawarah Suku Quraisy) menjabat sebagai Al Isynaq yaitu mengadili dan memutuskan terhadap setiap silang pendapat dan sengketa dan menetapkan hukuman dendannya (Al Diyat).
Ia juga adalah orang yang ditunjuk Nabi Muhammad SAW  untuk menemaninya hijrah ke Yatsrib (Madinatul Munawaroh). Ia dicatat sebagai salah satu Sahabat Muhammad yang paling setia dan terdepan melindungi para pemeluk Islam bahkan terhadap sukunya sendiri.
Abu Bakar adalah orang yang menggantikan Nabi Muhammad SAW  menjadi Imam dalam Salat ketika Nabi tidak mampu menjadi imam
            Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Waktu yang singkat itu diprioritaskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah sepeninggal Rasulullah SAW.
1.      Mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor yang berselisih paham tentang pengganti Nabi Muhaammad SAW
2.      Bermusyawarah dalam menentukan putusan tertentu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
3.      Kebenaran adalah suatu amanat dan mematuhi pemimpin yang taat kepada Allah dan  Rasulnya.
4.      Menyerukan mendirikan sholat.
5.      Memantapkan hati tentang Nabi Muhammad SAW yang telah wafat dan membuat orang-orang beranggapan bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad SAW, dengan sendirinya batal. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah panglima yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.
Umar bin Khattab adalah khalifah ke-2 berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Menjadi kholifah 10 tahun (13 – 23 H / 634 – 644 M). Khalifah Abu Bakar sedang sakit dan mengundang banyak orang untuk meminta pertimbangan siapa yang akan menjadi pengantinya. Keputusan Umar Bin Khatab sebagai pengganti kemudian menulis surat wasiat yang ditulis oleh sahabat Utsman Bin Affan. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu'minin (petinggi orang-orang yang beriman).
Pada awal pemerintahan Khalifah Umar mengambil kebijakan untuk mengganti para pejabat sebelumnya. Mengangkat pejabat dan menetapkan gubernur dan panglima perang khalid bin Walid diganti oleh Abu Ubaidah Ibn Jarrah.
Masa Khalifah Umar perluasan wilayah terjadi ; di lembah Yarmuk tahun 635 M / 13 H terjadi  pertempuran Yarmuk, sebagai penentuan nasib Syria dan Palestina akhirnya jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Kemudian Damaskus  masuk dalam kekuasaan Islam , ekspansi diperluas ke Mesir yang di pimpinan 'Amr ibn 'Ash dan ke Irak dengan pimpinan Sa'ad ibn Abi Waqqash. Iskandariah (Alexandria, sekarang Istanbul), ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M.
Wilayah Islam karena ekspansi pada masa Khalifah Umar Bin Khatab membuat khalifah menyusun sistem pemerintahan dengan mengatur administrasi kenegaraan dengan menjadikan  delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijiah.
Dia dibunuh oleh seorang Zoroastrianis, budak Fanatik dari Persia bernama Abu Lu'lu'ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Ali ibn Abithalib, Utsman Bin Affan, Zubair Bin Awwam, Sa'ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn 'Auf dan Thulhah ibn Abi Waqqash. Setelah Umar wafat, Abu Thulhah Al Anshari bersama 6 tokoh musyawarah di rumah musawwar ibn Mukhirat tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah.
            Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 576 M menjadi khalifah selama 12 tahun ( 23- 35 H / 644-656 M ). Nenek moyangnya bersatu dengan nasab Nabi Muhammad saw. pada generasi ke-5. Sebelum masuk Islam ia dipanggil dengan sebutan Abu Amr. Ia begelar Dzunnurain, karena menikahi dua putri Nabi SAW yaitu Ruqayah binti Muhammad SAW dan Ummu Kaltsum binti Muhammad SAW. adalah khalifah ke-3 dalam sejarah Islam.
Di masa pemerintahan Utsman wilayah meliputi Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Beliau membangun gedung bertingkat dengan nama Gedung Al Zawrak
Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini karena fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba’ Al-Yamani salah seorang yahudi yang berpura-pura masuk Islam. Ibnu Saba’ ini gemar berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa keislamannya. Akhirnya pada tahun 35 H/1655 M, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang berhasil dihasut oleh Abdullah bin Saba’ itu.
Utsman dipandang sebagai saudagar besar yang rela menyerahkan harta kekayaannya untuk kepentingan agama dan membantu hamba sahaya yang kekurangan. Berawal dari pengangkatan kerabat dalam struktur pemerintahan khalifah yang mempengaruhi kebijkannya .  
Dalam pemerintahan mengukuhkan lembaga sekretariat Al Dawawin yang dipimpin oleh Zaid Bi Sabit. Dan membentuk Baitul Mal Diwan Al Murtaziqat untuk mencatat seluruh penghasilan para pejabat negara. Penaskahan kitab Al Qur’an dengan membentuk lembaga Penaskahan Kitan Suci Al Qur’an yang terdiri dari :
1.      Zaid bin Tsabit
2.      Abdullah bin Zubair
3.      Said Bin Ash
4.      Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam.
Selesai tahun 30 H / 651 M penaskahan  berjumlah 7 dikirim ke pusat kedudukan kaum muslimin yang penting yaitu :
1.      Makkah
2.      Damaskus
3.      San’a di Yaman
4.      Bahrain
5.      Basrah
6.      Kaufah
7.      Satu dipegang Khalifah Utsman dengan dibubuhi cap Kholifah.
Pada masa Utsman diadakan perluasan Masjidil Haram, dan mencetuskan zakat secara pribadi yang tidak ditangani oleh pemerintah.
Pada waktu subuh hari Jum’at tanggal 8 Dzulhijjah tahun 35 H terjadi pembunuhan Khalifah  Utsman bin Affan oleh Sudan ibn Hamran dan Ghafiki.

Ali bin Abi Thalib menjadi kholifah pada tahun 35 – 41 H / 656 – 611 M, Setelah Utsman wafat, penduduk Ibu Kota Madinah al Munawaroh dan pasukan dari Mesir , Bashrah dan Kufah memilih Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun.Ali mendapat julukan Abu Turob dari Nabi Muhammad SAW.

Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali menonaktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.

Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zhalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari para gubernur di Damaskus, Mu'awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Mu'awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan nama Perang Shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, kaum Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu'awiyah, Syi'ah (pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudu) yang menyusup pada barisan tentara Ali, dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu'awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij yaitu Abdullah bin Muljam.

B. Khulafaur Rasyidin sebagai pemimpin Negara :
Pemimpin Negara sebagai jabatan Khulafaur Rasyidin dapat dikatakan berkesinambungan dengan jabatan pemimpin Umat Islam. Hal ini keterkaitan dengan hukum tata Negara yang dilakukan di dalam negara berasaskan Islam  sebagai kepala Negara Khulfaur Rasyidin memegang kendali kebijakan negara.
Pada Masa Abu Bakar  sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.      Menjaga ketentraman negara dengan menjalin persatuan masyarakat yang bertikai atas meninggalnya Nabi Muhammad SAW
2.      Memerangi orang yang memberontak terhadap Islam
3.      Memerangi orang yang mengaku sebagai Nabi Palsu yaitu Musailamah Al Kazab
4.      Memerangi orang yang tidak membayar zakat
Pada Masa Umar bin Khatab sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.      Menyusun struktur kepemerintahan setigkat gubernur daerah
2.      Mengganti pejabat lama dengan pejabat baru sesuai dengan kebutuhan
3.      Mengembangkan wilayah Islam sebagai tanggung jawab pengembangan agama Islam
4.      Menetapkan hukum Islam , hukum waris, penentuan zakat rampasan perang.
5.      Menentukan gaji pegawai dan tunjangannya (Al-Ithak dan Al jirayat)
Pada Masa Utsman bin Affan sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.      Membentuk kelembagaan kesekretariatan negara
2.      Membentuk kelembagaan keuangan negara
3.      Pembentukan Diwan Al murtaziqat sebagai lembaga pencatat penghasilan bulanan pejabat sipil dan pejabat militer.
4.      Penaskahan Al Qur’an
Pada Masa  Ali Bin Abi Thalib sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.      Menyelesaikan masalah dengan mengutamakan aspek agama dari pada keduniaan
2.      Menjaga persatuan dan menumpas pemberontakan
3.      Membuat strategi pemerintahan dan strategi militer
C. Tauladan Khulafaur Rasyidin
Pada masa Khulafa'ur Rasyidin para sahabat Rasulullah SAW  dan para tabi'in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu'anhu dan Umar bin Khatab radhiallahu'anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.     


Abu Bakar As Sidiq
Peristiwa ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu'anhu. Pada saat itu Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat Surga tertinggi.
            Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.           
            Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.       
            Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu'anhu.           
            Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku” Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku” 
            Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata, Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”       

 Umar bin Khatab    
            Amirul Mukminin Umar bin Khatab radhiallahu'anhu menikahi Ummu Kultsum bin Ali radhiallahu'anhu. Suatu hari dia pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan sedih dan gelisah di pintu masjid. Umar bertanya, “Ada apa denganmu?” laki-laki itu menjawab, “Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apapun dan tidak seorangpun bersamanya.”. Umar menanyakan rumahnya. Lalu dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran kota Madinah. Umar pulang menemui istrinya, Ummu Kultsum seraya berkata, “Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?” Istrinya bertanya, “Apa itu ya Amiirul Mukminin?” Umar menjelaskan, “Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya.” Istrinya menjawab, “Ya.”        
            Umar lalu mengambil tepung, mentega, dan susu kering. Dia berangkat, diikuti istrinya di belakangnya. Ketika sampai di tenda, Umar berteriak, “Wahai penghuni tenda.” Laki-laki itu keluar. Umar menyuruh istrinya masuk kepada wanita itu, sedangkan ia menyiapkan bejana dengan tepung, mentega dan susu kering. Umar meletakkannya di tungku. Dia meniup apinya dan mengaduk isinya. Apa yang ada di bejana belum juga masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda yang diikuti suara Ummu Kultsum radhiallahu'anha, “Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada temanmu, anaknya laki-laki.” Laki-laki itu terkejut. Dia berkata, “Kami telah merepotkan dan melelahkan Amirul Mukminin.”           Umar berkata, “Tidak apa-apa. Besok pagi datanglah kepada kami. Kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu.” Keesokan harinya laki-laki itu datang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi punggungnya. Laki-laki itu berbahagia dan berterimakasih kepada Amirul Mukminin radhiallahu'anhu. Begitulah orang besar mencetak sebuah keteladanan.           

Utsman Bin Affan
Rasulullah SAW menjawab: “Utsman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani malaikat?” (Hadis Riwayat Ahmad)

Ali Bin Abi Thalib
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, “bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang membencinya, kecuali orang munafik.” (HR. Muslim)
Berkata Ummul Mukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah” (al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi)
Berkata Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki”.


Rangkuman
            Khulafaur Rasyidin itu bermakna pengganti-pengganti yang cendekiawan terdiri atas empat tokoh sepeninggalan Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1.      Khalifah Abu Bakar Al Sidiq (11-13 H / 632 – 634 M )
2.      Khalifah Umar ibn Khatab ( 13 – 23 H / 634 – 644 M )
3.      Khalifah Utsman ibn Affan ( 23 – 35 H / 644 – 655 M)
4.      Khalifah Ali ibn Abithalib ( 35 – 41 H / 655 – 661 M )
Pada  waktu Abu bakar Al Sidiq terpilih dan terangkat menjadi penguasa tertinggi maka dipanggil dengan khalifatullah. Karena beliau keberatan maka panggilan diganti dengan khalifatur Rasul.
Disebabkan setiap khalifah senantiasa berkedudukan sebagai pemimpin tertinggi dalam dunia Islam maka lambat laun timbul pengertian yang baru yaitu penguasa.
Ciri –ciri yang membedakan khulafaur Rasyidin dengan penguasa sesudahnya adalah :
1.      Pejabat khulafaur Rasydin dipilih dan diangkat berdasarkan musyawarah bukan berdasarkna warisan
2.      Pejabat tertinggi bukan berdiam diri pada istana khusus akan tetapi di dalam rumah sendiri tanpa barisan pengawal dan hidup serta bergaul dengan masyarakat seperti warga biasa.
Dari sisi ini dimunculkan perilaku akhlaqul karimah para Khulafaur Rasyidin yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari hari.
 Tes Formatif :
Pilihlah jawaban yang benar dengan memberikan tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d di depan jawaban yang benar!
1.      Perilaku terpuji Khulafaur Rasyidin yang dapat di teladani adalah … .
a.       Membanggakan diri diangkat menjadi pemimpin tertinggi umat Islam
b.      Membiarkan orang-orang kembali pada agama nenek moyang
c.       Menegakkan ajaran agama Islam bagi pemeluknya
d.      Menyingkirkan orang-orang yang memusuhinya
2.      Khalifah yang memerangi orang yang enggan membayar zakat adalah .. .
a.       Abu Bakar As Sidiq                            c.  Utsman Bin affan
b.      Umar Bin Khotob                               d.  Ali Bin Abi Tholib
3.      Ketika Nabi  Muhammad SAW berhijrah ke Yasrib ditemani sahabat yang setelah Nabi Wafat menjadi salah satu Khulafaur Rasyidin adalah ... .
a.       Ali Bin Abi Tholib                              c.  Umar Bin Khatab
b.      Utsman Bin Affan                              d.  Abu Bakar As Sidiq
4.      Pada awal kholifah Abu bakar di baiat menjadi pemimpin umat Islam yang pertama dilakukan bagi umat Islam adalah ... .
a.       Membukukan Al Qur’an dan Al Hadits supaya tidak hilang
b.      Memperkokoh persatuan kaum muhajirin dan anshar
c.       Memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat
d.      Memperluas wilayah Islam di jazirah Arab
5.      Sikap teladan Khalifah Abu Bakar dalam berkuasa menjadi khalifah adalah ...
a.       Kebijaksanaan dalam pemerintahan dengan berasaskan kerakyatan
b.      Menjadi panglima perang yang gagah berani
c.       Memiliki wewenang yang absolut dalam pemerintahan
d.      Menjadikan sahabatnya bawahan yang bisa diperintah apa saja.
6.      Sebelum masuk Islam ia sangat membeci dan memusuhi orang-orang yang telah memeluk agama Islam, tetapi begitu masuk Islam ia adalah pembela yang terdepan terhadap Islam, ini terjadi pada diri khalifah … .
a.       Utsmn bin Affan                                 c. Umar bin Abdul Aziz
b.      Umar bin Khatab                                d. Abu Bakar As Sidiq
7.      Kepedulian Umar bin Khatab terhadap lingkungan masyarakat Islam ketika beliau menjabat sebagai khalifah adalah ditunjukkan dengan sikap … .
a.       Mengganti pejabat lama dengan pejabat baru
b.      Memenangkan pertempuran di Yarmuk
c.       Mendapat gelar Amirul mukminin
d.      Hidup di rumah biasa seperti masyarakat lain
8.      Seorang khalifah yang mau membawakan sendiri bantuan kepada rakyat tanpa memandang siapa dan status adalah … .
a.       Abu Bakar As Sidiq                            c. Utsman Bin Affan
b.      Umar Bin Khatab                                d.  Ali Bin Abi Tholib
9.      Khalifah Umar bin Khatab terkenal sangat keras dan tegas dalam menegakkan agama Islam, sebagaimana sikap dalam … .
a.       Mendirikan baitul mal                         c.  mengantar sendiri bantuan kepada yang berhak
b.      Berhijrah terang-terang ke Yasrib       d.  mencari harta rampasan perang
10.  Sholat terawih diselenggarakan secara berjamaah di masjid – masjid pada malam bulan Ramadhan ketika pada masa khalifah … .
a.       Umar bin Khatab                                c.   Abu Bakar As Sidiq
b.      Utsman Bin Affan                              d.   Ali Bin Abitholib
11.  Khalifah Utsman Bin Affan dalam sejarah Islam adalah khalifah yang ke … .
a.       Pertama                                               c.   ketiga
b.      Kedua                                                 d.  keempat
12.  Khalifah yang menerapkan hadits Nabi malu sebagian dari iman , karena itu Beliau memiliki sifat pemalu adalah … .
a.       Ali Bin Abithalib                                c.    Umar Bin Khatab
b.      Abu Bakar As Sidiq                            d.    Utsman  bin Affan
13.  Keteladan  yang ditunjukkan dengan watak yang jujur yaitu diterapkan pada penaskahan Al Qur’an adalah … .
a.       Umar Bin Khatab                                c.   Ali Bin Abithalib
b.      Utsman Bin Affan                              d.   Abu Bakar  As Sidiq
14.  Orang-orang yang ditunjuk sebagai tim penaskahan Al Qur’an tentunya yang memiliki sikap jujur, tanggung jawab dan relegius, diantaranya adalah  …  .
a.       Abu Bakar, Utsman bin affan             c.   Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair
b.      Umar bin Khatab , Said bin Ash         d.   Abdurrahman ibn Harits, Ubaidullah
15.  Sikap mempertahankan pendirian agama dan keyakinan sampai darah penghabisan ditunjukkan oleh khalifah yang meninggal karena dibunuh ketika membaca Al Qur’an adalah … .
a.       Abu Bakar As Sidiq                            c.  Umar Bin Khatab
b.      Ali Bin Abi Thalib                              d.   Utsman Bin Affan
16.  Khalifah yang di usulkan oleh kaum Madinah,  Mesir,  Bashrah dan Kuffah adalah … .
a.       Ali Bin Abithalib                                c.    Utsman Bin Affan
b.      Umar Bin Khatab                                d.    Abu Bakar As Sidiq
17.  Khalifah Ali bin Abithalib sangat arif dan  bijaksana ditunjukkan ketika … .
a.       Memutuskan suatu masalah mengedepankan aspek agama
b.      Mengangkat pejabat sesuai dengan siap yang disenanginya
c.       Menindas kepada yang dibencinya
d.      Selalu perang untuk mendapatkan harta raampasan
18.  Terjadinya peperangan antar muslim karena tidak mampu mengekang hawa nafsu dan tidak memiliki toleransi seperti yang terjadi antara pasukan Ali Bin Abithalib dengan pasukan Muawiyah yaitu terjadi perang … .
a.       Badar                                                  c.   siffin
b.      Uhud                                                   d.   khandaq
19.  Keteladanan Khalifah  Ali Bin Abi Thalib dalam memutuskan sesuatu sehingga menimbulkan rasa empati para pengikutnya yaitu ….
a.       Khawarij                                             c.   Murji’ah
b.      Mu’tazilah                                           d.   syiah
20.  Sikap yang tidak toleran dan selalu menuntut pada keadaan supaya sama dengan apa yang diharapkan tidak boleh dipelihara karena akan mengakibatkan … .
a.       Ketentraman                                       c.   Kedamaian
b.      Pertikaian                                            d.   kebahagiaan
Isilah titik di bawah ini dengan isian jawaban yang benar !
1.      Khalifah Abu Bakar mendapat gelar As Sidiq ketika beliau membenarkan peristiwa … .
2.      Pada masa khalifah Abu Bakar terjadi pemurtadan agama pada orang-orang Islam yang imannya kurang kuat, maka diperangi dengan istilah perang … .
3.      Pengangkatan Khalifah Abu Bakar dengan menggunakan asas … .
4.      Gagah berani membela agama Islam ditunjukkan oleh khalifah … .
5.      Pengamalan cinta kepada negara mengembangkan system pembayaran gaji dan pajak yang dimulai pada masa khalifah … .
6.      Ketragisan yang terjadi pada khalifah Umar bin khatab adalah meninggal dunia karena di bunuh oleh … .
7.      Proses pembukuan Al Qur’an di dahului pembentukan lembaga sekretariat yang disebut … .
8.      Hasil kerja keras tim penaskahan Al Qur’an pada masa khalifah Utsman Bin Affan menjadikan mushaf sebanyak … .
9.      Khalifah Ali bin Abi thalib menjabat sebagai khalifah selama ….
10.  Ali Bin Abi Thalib untuk memutuskan perkara dengan mempertimbangkan aspek … .
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang benar !
1.      Apakah tugas Abu Bakar ketika menjabat sebagai Al Insyaq di Darun Nadwa ?
2.      Sebutkan langkah-langkah yang diambil Abu Bakar ketika diangkat menjadi khalifah !
3.      Sebutkan orang-orang yang masuk dalam tim penaskahan Al Qur’an !
4.      Kapan perluasan Islam paling luas pada masa khulafaur Rasyidin?
5.      Sebutkan peperangan yang terjadi pada masa khalifah Ali Bin Abi thalib?
Penilaian Nilai Karakter
            Setelah mempelajari modul ini berilah tanggapa kalian tentang nialai karakter yang dapat dicontoh dengan memberikan tanda cethang pada kolom tanggapan yang sesuai dengan jujur !
NO
Pernyataan
Tanggapan Siswa
SS
S
T S
Alasan
1
Memiliki wawasan yang luas dalam memutuskan masalah




2
Selalu mendahulukan kepentingan golongan dari pada kepentingan umum




3
Ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain




4
Memaksakan pendapat kepada orang lain




5
Menyusun strategi yang baik untuk kepentingan umum




6
Berkorban untuk kepentingan kelompoknya




7
Ikut serta memajukan masyarakat dan agama




8
Menghalangi orang lain untuk menjadi baik




9
Mencari jalan terbaik untuk kemaslahatan




10
Meninggalkan permasalahan yang tidak dapat dihadapi




 Keterangan
SS : Sangat setuju
S  : Setuju
TS : Tidak Setuju
Alasan : berilah alasan mengapa kalian memilih tanggapan itu
Kunci Jawaban Tes Formatif
Pilihan Ganda
1.      C                           6.     B                                     11.       C                                 16.       A
2.      A                           7.     D                                     12.       D                                 17.       A
3.      D                           8.     C                                     13.       B                                 18.       C
4.      B                           9.     B                                     14.       C                                 19.       D
5.      A                           10.   A                                     15.       D                                 20.       B
Isian
1.      Isra’ mi’raj
2.      riddah
3.      Musyawarah
4.      Umar bin Khatab
5.      Umar bin Khatab
6.      Abu Lu’lu’ah
7.      Al Dawawin
8.      7
9.      6 tahun
10.  Agama dan kemaslahatan
Jawaban singkat
1.      mengadili dan memutuskan terhadap setiap silang pendapat dan sengketa dan menetapkan hukuman dendannya (Al Diyat).
2.      Memerangi orang yang memberontak terhadap Islam
Memerangi orang yang mengaku sebagai Nabi Palsu yaitu Musailamah Al Kazab
Memerangi orang yang tidak membayar zakat
3.      Zaid bin Tsabit
Abdullah bin Zubair
Said Bin Ash
Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam.
4.      Pada periode Umar Bin Khatab
5.      Perang jamal
perangsiffin
Pedoman Penilaian Tes Formatif :
1.      Pilihan ganda ; benar X 1  = 20 score max
2.      Isian : benar  X 2      =  20 scorem ax
3.      Jawban : benar  max 3 = 15 score max
4.      Nilai total :  Skor Pilihan ganda + Skor Isian + Skor Jawaban singkat / 3,5  = 100 Nilai Max
5.      Jika nilai kurang dari 80 silakan pelajari kembali modul ini sampai tuntas. Untuk mengetahuai perolehan nilai silakan melihat kunci jawaban
Pedoman Pencpaian Nilai karakter
Berilah skor pda jawaban kalian:
1.      Untuk soal ganjil , dengan ketentuan ; ss = 3, s = 2 , ts =1
2.      Untuk soal genap ,dengan ketentuan ; ss = 1 s =2  ts =3
3.      Hitunglah skor kalian
4.      Jika skor yang kalian peroleh ≥ 80 berarti karakter ………..sudah kalian miliki
5.      Jika skor yang  kalian peroleh < 80 maka perbaiki sikap kalian dan meyakini bahwa dengan pembiasaan sikap yang baik akan membentuk karakter kepribadian yang baik pada diri kalian.
Mutiara  Hikmah :
“mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Daftar Pustaka :
Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Jakarta : Bulan Bintang, 1979
Muslim Ishak, Sejarah dan Perkembangan Theologi Islam, Semarang : duta grafika , 1988

Mudlor Achmad, Etika dalam Islam, Surabaya : Al Ikhlas, -