MENELADANI SIKAP TERPUJI KHULAFAURRASYIDIN
A. Deskripsi
Dalam
modul ini kita akan mempelajari tentang Khulafaur Rasyidin yang memiliki sifat
akhlaqul karimah dan kita dapat meneladaninya. Keteladanan tersebut memiliki arti
sangat baik bagi pembentukan akhlaqkul karimah kita sebagai pengikut ajaran
Islam.
Khulafaur Rasyidin (bahasa
Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah
empat orang khalifah
(pemimpin) pertama agama Islam, yang
dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi
Muhammad SAW setelah ia wafat. Empat orang tersebut
adalah para sahabat dekat Muhammad yang
tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di
saat masa kerasulan. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan
keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam.
Perkembangan Islam yang menuntut adanya penerus
generasi Islam yang handal dalam keimanan dan ketaqwaan adalah modal yang
dangat penting bagi kelangsungan amaliyah islamiyah pada diri seseorang. Para
khalifah pengganti Rasul ini salah satunya yang memiliki keimanan yang kuat
menjadikan dirinya tauladan umat pada
masa khalifah saat memimpin, maupun
sebagai tadabur bagi generasi setelahnya. Akhlaq yang dimiliki dijadikan panutan dan contoh kehidupan beliau
bagi masyarakat umum yang pada gilirannya memberikan pola kehidupan yang
tertata rapi berlandaskan nilai-nilai agama yang baik.
Pada pembahasan modul pembelajaran ini akan
dikerucutkan bahasan tentang kepribadian para pemimpin umat sebagai pemimpin negara
dan pemimpin agama yang mengemban nilai-nilai agama Islam yang dapat diterapkan
bagi masyarakat seluruh dunia. Dari khalifah Abu Bakar As Sidiq , Umar Bin Khatab,
Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib yang kehidupannya benar-benar sesuai
dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi.
A.
Khulafaur
– Rasydin Sebagai Pemimpin Umat .
Khulafaur Rasyidin sebagai pengganti
Nabi Muhammad SAW adalah menyampaikan ajaran Islam yang
telah dicontohkan Nabi. Dakwah yang dilakukan oleh masing-masing khalifah
memiliki ciri dan prioritas masing-masing periode kekhalifahan. Tetapi sebelum
kita membahas lebih jauh penyampaian ajaran Islam kepada umat dalam kebijakan
khalifah maka akan disampaikan terlebih
dahulu siapa sajakah yang maksud dengan Khulafaur Rasyidin tersebut.
Khulafaur Rasyidin adalah empat orang
khalifah pertama dalam Islam sebagai pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW, yaitu
:
1.
Abu
Bakar As Sidiq ((ابو بكر الصديق (573 - 634 M, menjadi khalifah 632 - 634 M)
2.
Umar
bin Khattab ( ( عمر بن الخطب (586-590 - 644 M, menjadi khalifah 634 - 644 M)
3.
Utsman bin Affan (عثمان بن عفان (/ 12 Dzulhijjah 35 H; umur 81–82 tahun) (menjadi khalifah 644-655 M)
4.
‘Alī bin Abī Thālib (علي بن أﺑﻲ طالب ) (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 – wafat 21 Ramadhan 40 Hijriah/661),
Abu Bakar ash-Shiddiq (Abu bakar ibnu Utsman) Ayahnya yang dikenal dengan panggilan Abu Kuhafah.
lahir pada tahun 573 M, Abu Bakar adalah sebutan yang bermakna “bapaknya si
Upik” aslinya adalah “ Abdullah bin Utsman ". Ia mendapat gelar
"as-Shiddiq yang berarti terpercaya ,setelah membenarkan peristiwa Isra’
Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Nama sebelum muslim adalah "Abdul Ka'bah".
Ibunya bernama "Salma Ummul Khair “.
Abu bakar adalah pembesar
Suku Quraisy menjadi anggota Darun Nadwa (majelis musyawarah Suku Quraisy)
menjabat sebagai Al Isynaq yaitu mengadili dan memutuskan terhadap
setiap silang pendapat dan sengketa dan menetapkan hukuman dendannya (Al
Diyat).
Ia juga adalah orang yang
ditunjuk Nabi Muhammad SAW untuk
menemaninya hijrah ke Yatsrib (Madinatul Munawaroh). Ia dicatat sebagai salah satu Sahabat Muhammad yang
paling setia dan terdepan melindungi para pemeluk Islam bahkan terhadap sukunya
sendiri.
Abu Bakar adalah orang
yang menggantikan Nabi Muhammad SAW menjadi Imam dalam Salat ketika Nabi tidak mampu menjadi imam
Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal
dunia. Waktu yang singkat itu diprioritaskan untuk menyelesaikan persoalan
dalam negeri terutama tantangan yang disebabkan oleh suku-suku bangsa Arab yang
tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah sepeninggal Rasulullah SAW.
1.
Mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor yang berselisih paham tentang
pengganti Nabi Muhaammad SAW
2.
Bermusyawarah dalam menentukan putusan tertentu yang menyangkut hajat hidup
orang banyak.
3.
Kebenaran adalah suatu amanat dan mematuhi pemimpin yang taat kepada Allah
dan Rasulnya.
4.
Menyerukan mendirikan sholat.
5.
Memantapkan hati tentang Nabi Muhammad SAW yang telah wafat dan membuat
orang-orang beranggapan bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad SAW,
dengan sendirinya batal. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap
keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan
pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut
Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah panglima
yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.
Umar bin Khattab adalah khalifah ke-2 berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu
Bakar. Menjadi kholifah 10 tahun (13 – 23 H / 634 – 644 M). Khalifah Abu Bakar sedang
sakit dan mengundang banyak orang untuk meminta pertimbangan siapa yang akan
menjadi pengantinya. Keputusan Umar Bin Khatab sebagai pengganti kemudian
menulis surat wasiat yang ditulis oleh sahabat Utsman Bin Affan. Kebijaksanaan
Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara
beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah
(pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu'minin
(petinggi orang-orang yang beriman).
Pada awal pemerintahan Khalifah
Umar mengambil kebijakan untuk mengganti para pejabat sebelumnya. Mengangkat
pejabat dan menetapkan gubernur dan panglima perang khalid bin Walid diganti
oleh Abu Ubaidah Ibn Jarrah.
Masa Khalifah Umar perluasan
wilayah terjadi ; di lembah Yarmuk tahun 635 M / 13 H terjadi pertempuran Yarmuk, sebagai penentuan nasib
Syria dan Palestina akhirnya jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Kemudian
Damaskus masuk dalam kekuasaan Islam , ekspansi
diperluas ke Mesir yang di pimpinan 'Amr ibn 'Ash dan ke Irak dengan pimpinan
Sa'ad ibn Abi Waqqash. Iskandariah (Alexandria, sekarang Istanbul), ibu kota
Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan
Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637 M.
Wilayah Islam karena
ekspansi pada masa Khalifah Umar Bin Khatab membuat khalifah menyusun sistem
pemerintahan dengan mengatur administrasi kenegaraan dengan menjadikan delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah,
Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang
dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem
pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan
lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan
ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum.
Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijiah.
Dia dibunuh oleh seorang
Zoroastrianis, budak Fanatik dari Persia bernama Abu Lu'lu'ah. Untuk menentukan
penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk
enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di
antaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Ali ibn Abithalib, Utsman
Bin Affan, Zubair Bin Awwam, Sa'ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn 'Auf dan
Thulhah ibn Abi Waqqash. Setelah Umar wafat, Abu Thulhah Al Anshari bersama 6
tokoh musyawarah di rumah musawwar ibn Mukhirat tim ini bermusyawarah dan
berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah.
Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 576
M menjadi khalifah selama 12 tahun ( 23- 35 H / 644-656 M ). Nenek moyangnya
bersatu dengan nasab Nabi Muhammad saw. pada generasi ke-5. Sebelum masuk Islam
ia dipanggil dengan sebutan Abu Amr. Ia begelar Dzunnurain, karena
menikahi dua putri Nabi SAW yaitu Ruqayah binti Muhammad SAW dan Ummu Kaltsum
binti Muhammad SAW. adalah khalifah ke-3 dalam sejarah Islam.
Di masa pemerintahan
Utsman wilayah meliputi Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang
tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan. Ekspansi Islam pertama
berhenti sampai di sini. Beliau membangun gedung bertingkat dengan nama Gedung
Al Zawrak
Pemerintahan Usman
berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul
perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan
Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini karena fitnah dan
hasutan dari Abdullah bin Saba’ Al-Yamani salah seorang yahudi yang
berpura-pura masuk Islam. Ibnu Saba’ ini gemar berpindah-pindah dari suatu
tempat ke tempat lainnya untuk menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang
baru masa keislamannya. Akhirnya pada tahun 35 H/1655 M, Utsman dibunuh oleh
kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang berhasil dihasut oleh
Abdullah bin Saba’ itu.
Utsman dipandang sebagai
saudagar besar yang rela menyerahkan harta kekayaannya untuk kepentingan agama
dan membantu hamba sahaya yang kekurangan. Berawal dari pengangkatan kerabat
dalam struktur pemerintahan khalifah yang mempengaruhi kebijkannya .
Dalam pemerintahan
mengukuhkan lembaga sekretariat Al Dawawin yang dipimpin oleh Zaid Bi
Sabit. Dan membentuk Baitul Mal Diwan Al Murtaziqat untuk mencatat
seluruh penghasilan para pejabat negara. Penaskahan kitab Al Qur’an dengan
membentuk lembaga Penaskahan Kitan Suci Al Qur’an yang terdiri dari :
1. Zaid bin Tsabit
2. Abdullah bin Zubair
3. Said Bin Ash
4. Abdurrahman ibn Harits ibn
Hisyam.
Selesai tahun 30 H / 651 M penaskahan
berjumlah 7 dikirim ke pusat kedudukan kaum muslimin yang penting yaitu
:
1. Makkah
2. Damaskus
3. San’a di Yaman
4. Bahrain
5. Basrah
6. Kaufah
7. Satu dipegang Khalifah
Utsman dengan dibubuhi cap Kholifah.
Pada masa Utsman diadakan perluasan Masjidil Haram, dan mencetuskan zakat
secara pribadi yang tidak ditangani oleh pemerintah.
Pada waktu subuh hari Jum’at tanggal 8 Dzulhijjah tahun 35 H terjadi
pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan
oleh Sudan ibn Hamran dan Ghafiki.
Ali bin Abi Thalib menjadi
kholifah pada tahun 35 – 41 H / 656 – 611 M, Setelah Utsman wafat, penduduk Ibu
Kota Madinah al Munawaroh dan pasukan dari Mesir , Bashrah dan Kufah memilih
Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun.Ali mendapat julukan Abu
Turob dari Nabi Muhammad SAW.
Selama masa pemerintahannya,
ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam
pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan
khalifah, Ali menonaktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin
bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga
menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan
menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem
distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah
diterapkan Umar.
Tidak
lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair
dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan
mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara
zhalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat
kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan
perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran
yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta),
karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan
lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim
kembali ke Madinah.
Bersamaan
dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya
perlawanan dari para gubernur di Damaskus, Mu'awiyah, yang didukung oleh sejumlah
bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah
berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari
Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan
pasukan Mu'awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan
nama Perang
Shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim
(arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan
menyebabkan timbulnya golongan ketiga, kaum Khawarij, orang-orang
yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi
Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu'awiyah,
Syi'ah (pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudu) yang menyusup pada barisan
tentara Ali, dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan
ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Khawarij menyebabkan tentaranya
semakin lemah, sementara posisi Mu'awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20
ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij yaitu
Abdullah bin Muljam.
B. Khulafaur Rasyidin sebagai pemimpin Negara :
Pemimpin Negara sebagai jabatan Khulafaur Rasyidin dapat dikatakan
berkesinambungan dengan jabatan pemimpin Umat Islam. Hal ini keterkaitan dengan
hukum tata Negara yang dilakukan di dalam negara berasaskan Islam sebagai kepala Negara Khulfaur Rasyidin memegang
kendali kebijakan negara.
Pada
Masa Abu Bakar sebagai kepala negara
membuat kebijakan :
1.
Menjaga
ketentraman negara dengan menjalin persatuan masyarakat yang bertikai atas
meninggalnya Nabi Muhammad SAW
2.
Memerangi
orang yang memberontak terhadap Islam
3.
Memerangi
orang yang mengaku sebagai Nabi Palsu yaitu Musailamah Al Kazab
4.
Memerangi
orang yang tidak membayar zakat
Pada
Masa Umar bin Khatab sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.
Menyusun
struktur kepemerintahan setigkat gubernur daerah
2.
Mengganti
pejabat lama dengan pejabat baru sesuai dengan kebutuhan
3.
Mengembangkan
wilayah Islam sebagai tanggung jawab pengembangan agama Islam
4.
Menetapkan
hukum Islam , hukum waris, penentuan zakat rampasan perang.
5.
Menentukan
gaji pegawai dan tunjangannya (Al-Ithak dan Al jirayat)
Pada
Masa Utsman bin Affan sebagai kepala negara membuat kebijakan :
1.
Membentuk
kelembagaan kesekretariatan negara
2.
Membentuk
kelembagaan keuangan negara
3.
Pembentukan
Diwan Al murtaziqat sebagai lembaga pencatat penghasilan bulanan pejabat
sipil dan pejabat militer.
4.
Penaskahan
Al Qur’an
Pada
Masa Ali Bin Abi Thalib sebagai kepala negara
membuat kebijakan :
1.
Menyelesaikan
masalah dengan mengutamakan aspek agama dari pada keduniaan
2.
Menjaga
persatuan dan menumpas pemberontakan
3.
Membuat
strategi pemerintahan dan strategi militer
C.
Tauladan Khulafaur Rasyidin
Pada
masa Khulafa'ur Rasyidin para sahabat Rasulullah SAW dan para tabi'in berlomba-lomba berbuat
kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang
teraniaya. Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu'anhu dan Umar bin Khatab
radhiallahu'anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang
mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala
di akhirat.
Abu Bakar As Sidiq
Peristiwa
ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu'anhu. Pada saat itu Umar
mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali
lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat
Surga tertinggi.
Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.
Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.
Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu'anhu.
Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku” Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”
Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata, Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”
Umar bin Khatab
Amirul Mukminin Umar bin Khatab radhiallahu'anhu menikahi Ummu Kultsum bin Ali radhiallahu'anhu. Suatu hari dia pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan sedih dan gelisah di pintu masjid. Umar bertanya, “Ada apa denganmu?” laki-laki itu menjawab, “Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apapun dan tidak seorangpun bersamanya.”. Umar menanyakan rumahnya. Lalu dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran kota Madinah. Umar pulang menemui istrinya, Ummu Kultsum seraya berkata, “Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?” Istrinya bertanya, “Apa itu ya Amiirul Mukminin?” Umar menjelaskan, “Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya.” Istrinya menjawab, “Ya.”
Umar lalu mengambil tepung, mentega, dan susu kering. Dia berangkat, diikuti istrinya di belakangnya. Ketika sampai di tenda, Umar berteriak, “Wahai penghuni tenda.” Laki-laki itu keluar. Umar menyuruh istrinya masuk kepada wanita itu, sedangkan ia menyiapkan bejana dengan tepung, mentega dan susu kering. Umar meletakkannya di tungku. Dia meniup apinya dan mengaduk isinya. Apa yang ada di bejana belum juga masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda yang diikuti suara Ummu Kultsum radhiallahu'anha, “Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada temanmu, anaknya laki-laki.” Laki-laki itu terkejut. Dia berkata, “Kami telah merepotkan dan melelahkan Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Tidak apa-apa. Besok pagi datanglah kepada kami. Kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu.” Keesokan harinya laki-laki itu datang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi punggungnya. Laki-laki itu berbahagia dan berterimakasih kepada Amirul Mukminin radhiallahu'anhu. Begitulah orang besar mencetak sebuah keteladanan.
Utsman Bin Affan
Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.
Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.
Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu'anhu.
Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku” Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”
Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata, Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar”
Umar bin Khatab
Amirul Mukminin Umar bin Khatab radhiallahu'anhu menikahi Ummu Kultsum bin Ali radhiallahu'anhu. Suatu hari dia pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan sedih dan gelisah di pintu masjid. Umar bertanya, “Ada apa denganmu?” laki-laki itu menjawab, “Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apapun dan tidak seorangpun bersamanya.”. Umar menanyakan rumahnya. Lalu dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran kota Madinah. Umar pulang menemui istrinya, Ummu Kultsum seraya berkata, “Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?” Istrinya bertanya, “Apa itu ya Amiirul Mukminin?” Umar menjelaskan, “Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya.” Istrinya menjawab, “Ya.”
Umar lalu mengambil tepung, mentega, dan susu kering. Dia berangkat, diikuti istrinya di belakangnya. Ketika sampai di tenda, Umar berteriak, “Wahai penghuni tenda.” Laki-laki itu keluar. Umar menyuruh istrinya masuk kepada wanita itu, sedangkan ia menyiapkan bejana dengan tepung, mentega dan susu kering. Umar meletakkannya di tungku. Dia meniup apinya dan mengaduk isinya. Apa yang ada di bejana belum juga masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda yang diikuti suara Ummu Kultsum radhiallahu'anha, “Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada temanmu, anaknya laki-laki.” Laki-laki itu terkejut. Dia berkata, “Kami telah merepotkan dan melelahkan Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Tidak apa-apa. Besok pagi datanglah kepada kami. Kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu.” Keesokan harinya laki-laki itu datang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi punggungnya. Laki-laki itu berbahagia dan berterimakasih kepada Amirul Mukminin radhiallahu'anhu. Begitulah orang besar mencetak sebuah keteladanan.
Utsman Bin Affan
Rasulullah
SAW menjawab: “Utsman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring,
dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan
hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani
malaikat?” (Hadis Riwayat Ahmad)
Ali Bin Abi Thalib
Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu,
“bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang
membencinya, kecuali orang munafik.” (HR. Muslim)
Berkata
Ummul Mukminin Aisyah: “Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang
tentang as-Sunnah” (al-Istii’ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi)
Berkata
Ibnu Abbas: “Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh
bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang
kalian miliki”.
Rangkuman
Rangkuman
Khulafaur Rasyidin itu bermakna pengganti-pengganti yang
cendekiawan terdiri atas empat tokoh sepeninggalan Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1.
Khalifah
Abu Bakar Al Sidiq (11-13 H / 632 – 634 M )
2.
Khalifah
Umar ibn Khatab ( 13 – 23 H / 634 – 644 M )
3.
Khalifah
Utsman ibn Affan ( 23 – 35 H / 644 – 655 M)
4.
Khalifah
Ali ibn Abithalib ( 35 – 41 H / 655 – 661 M )
Pada waktu Abu bakar Al Sidiq terpilih dan
terangkat menjadi penguasa tertinggi maka dipanggil dengan khalifatullah.
Karena beliau keberatan maka panggilan diganti dengan khalifatur Rasul.
Disebabkan
setiap khalifah senantiasa berkedudukan sebagai pemimpin tertinggi dalam dunia
Islam maka lambat laun timbul pengertian yang baru yaitu penguasa.
Ciri –ciri yang
membedakan khulafaur Rasyidin dengan penguasa sesudahnya adalah :
1.
Pejabat
khulafaur Rasydin dipilih dan diangkat berdasarkan musyawarah bukan berdasarkna
warisan
2.
Pejabat
tertinggi bukan berdiam diri pada istana khusus akan tetapi di dalam rumah
sendiri tanpa barisan pengawal dan hidup serta bergaul dengan masyarakat
seperti warga biasa.
Dari sisi ini dimunculkan perilaku akhlaqul karimah para Khulafaur
Rasyidin yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari hari.
Tes
Formatif :
Pilihlah
jawaban yang benar dengan memberikan tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau
d di depan jawaban yang benar!
1.
Perilaku
terpuji Khulafaur Rasyidin yang dapat di teladani adalah … .
a.
Membanggakan
diri diangkat menjadi pemimpin tertinggi umat Islam
b.
Membiarkan
orang-orang kembali pada agama nenek moyang
c.
Menegakkan
ajaran agama Islam bagi pemeluknya
d.
Menyingkirkan
orang-orang yang memusuhinya
2.
Khalifah
yang memerangi orang yang enggan membayar zakat adalah .. .
a.
Abu
Bakar As Sidiq c. Utsman Bin affan
b.
Umar
Bin Khotob d. Ali Bin Abi Tholib
3.
Ketika Nabi
Muhammad SAW berhijrah ke Yasrib ditemani sahabat yang setelah Nabi
Wafat menjadi salah satu Khulafaur Rasyidin adalah ... .
a.
Ali Bin Abi Tholib c. Umar Bin Khatab
b.
Utsman Bin Affan d.
Abu Bakar As Sidiq
4.
Pada awal kholifah Abu bakar di baiat menjadi
pemimpin umat Islam yang pertama dilakukan bagi umat Islam adalah ... .
a.
Membukukan Al Qur’an dan Al Hadits supaya
tidak hilang
b.
Memperkokoh persatuan kaum muhajirin dan
anshar
c.
Memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat
d.
Memperluas wilayah Islam di jazirah Arab
5.
Sikap teladan Khalifah Abu Bakar dalam
berkuasa menjadi khalifah adalah ...
a.
Kebijaksanaan dalam pemerintahan dengan
berasaskan kerakyatan
b.
Menjadi panglima perang yang gagah berani
c.
Memiliki wewenang yang absolut dalam pemerintahan
d.
Menjadikan sahabatnya bawahan yang bisa
diperintah apa saja.
6.
Sebelum
masuk Islam ia sangat membeci dan memusuhi orang-orang yang telah memeluk agama
Islam, tetapi begitu masuk Islam ia adalah pembela yang terdepan terhadap
Islam, ini terjadi pada diri khalifah … .
a.
Utsmn
bin Affan c.
Umar bin Abdul Aziz
b.
Umar
bin Khatab d.
Abu Bakar As Sidiq
7.
Kepedulian
Umar bin Khatab terhadap lingkungan masyarakat Islam ketika beliau menjabat
sebagai khalifah adalah ditunjukkan dengan sikap … .
a.
Mengganti
pejabat lama dengan pejabat baru
b.
Memenangkan
pertempuran di Yarmuk
c.
Mendapat
gelar Amirul mukminin
d.
Hidup
di rumah biasa seperti masyarakat lain
8.
Seorang
khalifah yang mau membawakan sendiri bantuan kepada rakyat tanpa memandang
siapa dan status adalah … .
a.
Abu
Bakar As Sidiq c.
Utsman Bin Affan
b.
Umar
Bin Khatab d. Ali Bin Abi Tholib
9.
Khalifah
Umar bin Khatab terkenal sangat keras dan tegas dalam menegakkan agama Islam,
sebagaimana sikap dalam … .
a.
Mendirikan
baitul mal c. mengantar sendiri bantuan kepada yang berhak
b.
Berhijrah
terang-terang ke Yasrib d. mencari harta rampasan perang
10.
Sholat
terawih diselenggarakan secara berjamaah di masjid – masjid pada malam bulan
Ramadhan ketika pada masa khalifah … .
a.
Umar
bin Khatab c. Abu Bakar As Sidiq
b.
Utsman
Bin Affan d. Ali Bin Abitholib
11.
Khalifah
Utsman Bin Affan dalam sejarah Islam adalah khalifah yang ke … .
a.
Pertama c. ketiga
b.
Kedua d. keempat
12.
Khalifah
yang menerapkan hadits Nabi malu sebagian dari iman , karena itu Beliau
memiliki sifat pemalu adalah … .
a.
Ali
Bin Abithalib c. Umar Bin Khatab
b.
Abu
Bakar As Sidiq d. Utsman
bin Affan
13.
Keteladan yang ditunjukkan dengan watak yang jujur
yaitu diterapkan pada penaskahan Al Qur’an adalah … .
a.
Umar
Bin Khatab c. Ali Bin Abithalib
b.
Utsman
Bin Affan d. Abu Bakar
As Sidiq
14.
Orang-orang
yang ditunjuk sebagai tim penaskahan Al Qur’an tentunya yang memiliki sikap
jujur, tanggung jawab dan relegius, diantaranya adalah … .
a.
Abu
Bakar, Utsman bin affan c. Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair
b.
Umar
bin Khatab , Said bin Ash d. Abdurrahman ibn Harits, Ubaidullah
15.
Sikap
mempertahankan pendirian agama dan keyakinan sampai darah penghabisan
ditunjukkan oleh khalifah yang meninggal karena dibunuh ketika membaca Al
Qur’an adalah … .
a.
Abu
Bakar As Sidiq c. Umar Bin Khatab
b.
Ali
Bin Abi Thalib d. Utsman Bin Affan
16.
Khalifah
yang di usulkan oleh kaum Madinah,
Mesir, Bashrah dan Kuffah adalah
… .
a.
Ali
Bin Abithalib c. Utsman Bin Affan
b.
Umar
Bin Khatab d. Abu Bakar As Sidiq
17.
Khalifah
Ali bin Abithalib sangat arif dan
bijaksana ditunjukkan ketika … .
a.
Memutuskan
suatu masalah mengedepankan aspek agama
b.
Mengangkat
pejabat sesuai dengan siap yang disenanginya
c.
Menindas
kepada yang dibencinya
d.
Selalu
perang untuk mendapatkan harta raampasan
18.
Terjadinya
peperangan antar muslim karena tidak mampu mengekang hawa nafsu dan tidak
memiliki toleransi seperti yang terjadi antara pasukan Ali Bin Abithalib dengan
pasukan Muawiyah yaitu terjadi perang … .
a.
Badar c. siffin
b.
Uhud d. khandaq
19.
Keteladanan
Khalifah Ali Bin Abi Thalib dalam
memutuskan sesuatu sehingga menimbulkan rasa empati para pengikutnya yaitu ….
a.
Khawarij c. Murji’ah
b.
Mu’tazilah d. syiah
20.
Sikap
yang tidak toleran dan selalu menuntut pada keadaan supaya sama dengan apa yang
diharapkan tidak boleh dipelihara karena akan mengakibatkan … .
a.
Ketentraman c. Kedamaian
b.
Pertikaian d. kebahagiaan
Isilah
titik di bawah ini dengan isian jawaban yang benar !
1.
Khalifah
Abu Bakar mendapat gelar As Sidiq ketika beliau membenarkan peristiwa … .
2.
Pada
masa khalifah Abu Bakar terjadi pemurtadan agama pada orang-orang Islam yang
imannya kurang kuat, maka diperangi dengan istilah perang … .
3.
Pengangkatan
Khalifah Abu Bakar dengan menggunakan asas … .
4.
Gagah
berani membela agama Islam ditunjukkan oleh khalifah … .
5.
Pengamalan
cinta kepada negara mengembangkan system pembayaran gaji dan pajak yang dimulai
pada masa khalifah … .
6.
Ketragisan
yang terjadi pada khalifah Umar bin khatab adalah meninggal dunia karena di
bunuh oleh … .
7.
Proses
pembukuan Al Qur’an di dahului pembentukan lembaga sekretariat yang disebut … .
8.
Hasil
kerja keras tim penaskahan Al Qur’an pada masa khalifah Utsman Bin Affan
menjadikan mushaf sebanyak … .
9.
Khalifah
Ali bin Abi thalib menjabat sebagai khalifah selama ….
10.
Ali
Bin Abi Thalib untuk memutuskan perkara dengan mempertimbangkan aspek … .
Jawablah
pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang benar !
1.
Apakah tugas Abu Bakar ketika menjabat sebagai
Al Insyaq di Darun Nadwa ?
2.
Sebutkan langkah-langkah yang
diambil Abu Bakar ketika diangkat menjadi khalifah !
3.
Sebutkan
orang-orang yang masuk dalam tim penaskahan Al Qur’an !
4.
Kapan perluasan Islam paling luas pada masa
khulafaur Rasyidin?
5.
Sebutkan peperangan yang terjadi pada masa
khalifah Ali Bin Abi thalib?
Penilaian
Nilai Karakter
Setelah mempelajari modul ini
berilah tanggapa kalian tentang nialai karakter yang dapat dicontoh dengan
memberikan tanda cethang pada kolom tanggapan yang sesuai dengan jujur !
NO
|
Pernyataan
|
Tanggapan
Siswa
|
|||
SS
|
S
|
T S
|
Alasan
|
||
1
|
Memiliki wawasan yang luas dalam memutuskan masalah
|
||||
2
|
Selalu mendahulukan kepentingan golongan dari pada kepentingan
umum
|
||||
3
|
Ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain
|
||||
4
|
Memaksakan pendapat kepada orang lain
|
||||
5
|
Menyusun strategi yang baik untuk kepentingan umum
|
||||
6
|
Berkorban untuk kepentingan kelompoknya
|
||||
7
|
Ikut serta memajukan masyarakat dan agama
|
||||
8
|
Menghalangi orang lain untuk menjadi baik
|
||||
9
|
Mencari jalan terbaik untuk kemaslahatan
|
||||
10
|
Meninggalkan permasalahan yang tidak dapat dihadapi
|
||||
Keterangan
SS :
Sangat setuju
S : Setuju
TS :
Tidak Setuju
Alasan
: berilah alasan mengapa kalian memilih tanggapan itu
Kunci
Jawaban Tes Formatif
Pilihan
Ganda
1.
C 6. B 11. C 16.
A
2.
A 7. D 12. D 17. A
3.
D 8. C 13. B 18. C
4.
B 9. B 14. C 19. D
5.
A 10. A 15. D 20. B
Isian
1.
Isra’ mi’raj
2.
riddah
3.
Musyawarah
4.
Umar bin Khatab
5.
Umar bin Khatab
6.
Abu Lu’lu’ah
7.
Al Dawawin
8.
7
9.
6 tahun
10. Agama
dan kemaslahatan
Jawaban singkat
1. mengadili dan memutuskan
terhadap setiap silang pendapat dan sengketa dan menetapkan hukuman dendannya
(Al Diyat).
2.
Memerangi
orang yang memberontak terhadap Islam
Memerangi orang yang mengaku sebagai Nabi Palsu yaitu Musailamah Al
Kazab
Memerangi orang
yang tidak membayar zakat
3. Zaid bin Tsabit
Abdullah bin Zubair
Said Bin Ash
Abdurrahman ibn Harits ibn
Hisyam.
4.
Pada periode Umar Bin Khatab
5.
Perang jamal
perangsiffin
Pedoman Penilaian Tes Formatif :
1.
Pilihan ganda ; benar X 1 = 20 score max
2.
Isian : benar X 2
= 20 scorem ax
3.
Jawban : benar max 3 = 15 score max
4.
Nilai total : Skor Pilihan ganda + Skor Isian + Skor
Jawaban singkat / 3,5 = 100 Nilai Max
5.
Jika nilai kurang dari 80 silakan
pelajari kembali modul ini sampai tuntas. Untuk mengetahuai perolehan nilai
silakan melihat kunci jawaban
Pedoman Pencpaian Nilai karakter
Berilah skor pda jawaban kalian:
1.
Untuk soal ganjil , dengan ketentuan
; ss = 3, s = 2 , ts =1
2.
Untuk soal genap ,dengan ketentuan ;
ss = 1 s =2 ts =3
3.
Hitunglah skor kalian
4.
Jika skor yang kalian peroleh ≥ 80
berarti karakter ………..sudah kalian miliki
5.
Jika skor yang kalian peroleh < 80 maka perbaiki sikap
kalian dan meyakini bahwa dengan pembiasaan sikap yang baik akan membentuk
karakter kepribadian yang baik pada diri kalian.
Mutiara Hikmah :
“mereka
bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:
"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia)
dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan
mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan
berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak
henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari
agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah
yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni
neraka, mereka kekal di dalamnya.
Daftar Pustaka :
Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Jakarta :
Bulan Bintang, 1979
Muslim Ishak, Sejarah dan Perkembangan Theologi Islam,
Semarang : duta grafika , 1988
Mudlor Achmad, Etika dalam Islam, Surabaya : Al Ikhlas, -